Friday, January 16, 2009
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Pengumuman
Bahterawan budiman,
ulang tahun ke-12 Bahtera masih lama, masih 6 bulan lagi, tapiiii...
saya sedang berbaik hati niy... :) ... dan ingin menantang Anda untuk
mengikuti lomba penerjemahan a la Bahtera.
silakan terjemahkan teks di bawah ini, yang menurut saya memerlukan
daya cipta dan cita rasa tinggi untuk dapat menghasilkan terjemahan
yang "benar" dan "tepat," sekaligus "indah."
hadiahnya sebuah flash disc mungil yang warnanya akan disesuaikan
dengan jantina Anda! :) dan kalau bisa akan ditatah dengan nama
BAHTERA (di manaaa ya di Bandung ada tukang gravir? ada yang tau?)
ketentuan lomba:
01. terjemahan dikirimkan HANYA LEWAT JAPRI ke alamat email saya
(sofiamansoor at gmail dot com)
02. terjemahan yang dikirimkan ke milis akan dianulir dan tidak akan
diikutsertakan dalam lomba
03. terjemahan bebas
04. jurinya cuma saya seorang (kalau pun ada juri "bayangan," itu
rahasia dan hak prerogatif saya sebagai penyedia hadiah - huahahaha)
05. tenggat: KAMIS 8 Januari 2009 jam 20.00 WIB atau ketika saya
mematikan komputer pada hari itu -- bisa jam 22.00 bisa juga jam 02.00
keesokan harinya, tergantung pada apakah saya mengalami insomnia atau
tidak pada malam itu
06. lomba ini boleh diikuti semua Bahterawan, baik yang berpredikat
moderator ataupun bukan, baik yang sudah 11 tahun 6 bulan menjadi
anggota Bahtera maupun yang baru semenit menjelang tenggat, baik yang
tinggal di dalam negeri ataupun di mancanegara
07. tidak ada surat-menyurat, baik lewat sms, email, maupun FaceBook,
apalagi lewat pos ke Ciumbuleuit
08. keputusan juri berlaku mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
09. nama satu orang pemenang akan diumumkan secepat-cepatnya Jumat 9
Januari 2009, selambat-lambatnya Senin 12 Januari 2009
selamat mengikuti lomba!
salam,
sofia a.k.a. NiFi a.k.a. dewini
================================
Hi Friends,
Today is the 5th day of 2009, here's something to inspire all of us,
titled " THE FOUR BLESSED LOOKS"
Look back and Thank God
Look forward and Trust God
Look around and Serve God
Look within and Find God
Without God, our week is: Sinday, Mournday, Tearsday, Wasteday,
Thirstday, Fightday and Shatterday. So allow Him to be with you every
day!
Have a blessed day! Keep your chin up and rest your problem in God's Hands.
Happy New Year 2009!
Wednesday, April 2, 2008
OBITUARI - Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto yang saya kenal
OBITUARI
19 Februari 1926 –
Selama perjalanan singkat dengan bis menuju hotel, kami terus bercakap-cakap. Saya sudah lupa apa persisnya yang kami percakapkan, tapi tidak jauh dari soal penerbitan buku dan lingkungan serta orang-orang yang sama-sama kami kenal dari kedua dunia tersebut. Yang saya ingat, saya terkagum-kagum mendengar obrolan beliau dan merasa beruntung dapat berkenalan dengan orang sepenting beliau.
Wednesday, March 19, 2008
Kerusuhan JSers Bandung 11 Maret 2008
Semuanya dimulai dengan email Aisa ke beberapa orang JSers Bandung awal Maret, biasaaa, ngomporin agar kita kumpul untuk menjajal Warung Sambel di Jl. Dago.
Tapi, kompor ini ditanggapi oleh salah seorang JSr bahwa sambelnya ngga enak, muahal pula. Dari sekian banyak sambel, cuma satu yang enak katanya (sori, lupa lagi yang mana). Yeee, ngapain juga atuh nyobain makanan yang udah jelas gak enak? Ntar hanjakal lagi dong, seperti waktu JSers Bandung menjajal Rawon Setan Bu Endang di Paskal Square, yang gak ada enak-enaknya sama sekali. Persis seperti review di milis JS baru2 ini. Hueraaaan, kok laku ya? Sampe bisa buka cabang di banyak tempat?
Anyway, busway, saya coba ngomporin dengan mengajukan Warung Bali LALAH sebagai alternatif — makanannya juga sama pedes, tapi rasanya bisa diacungi 2 jempol. Buktinya LALAH dapat pujian dari Lidia Tanod yang bikin reviewnya di milis JS, yang juga mampir ke sana atas komporannya Cindy Ceretch. Pasti ngga akan meleset lah, wong seleras Lidia suka klop kok ama selera saya.
Eh, ternyata banyak yang setuju, maka disepakatilah kerusuhan JS Bandung kali ini akan berlangsung Selasa 11 Maret jam 7 malam di LALAH, dengan pintong TBD (to be determined) – hehehe, kayak status Ketua PSSI di website FIFA aja neh!
Setelah seminggu pengumuman itu beredar, tercatat belasan JSers Bdg yang akan ikut kerusuhan kali ini, tapi pada Hari-H ternyata yang ngumpul hanya 10 orang: Budi + istri, Sofia, Yohana, Susi, Janti, Sienny, Aisa, Linda Cheang, dan Lily (ditulis berdasarkan urutan kedatangan).
Sienny, Aisa, dan Janti mampir dulu ke Warung Sambel, beli sambel untuk dibawa ke LALAH. Terang aja pelayan LALAH pada bengong, kok ini rombongan minta piring kosong untuk tempat sambel dari resto laen? Hihihihi, untung gak disita tuh dua piring sambel yang terdiri atas 6 macam sambel… Sienny, sambel apa aja tuh? Kenapa 2 piring? Karena ada yang pedes pisan dan pedes ringan! Harganya Rp32.000 – muahiiil kata Sienny mah.
Dari semua sambel yang ada, buat saya cuma sambel udang yang kepake… yang lain mah biasa2 aja… atau barangkali saya aja yang gak terlalu suka sambel ya? Tambahin ceritanya ya Sien, Janti, Aisa?
Oke, sekarang review LALAH ya. Karena saya sudah beberapa kali ke situ, termasuk ngajak ibu-ibu arisan Cipaku yang semuanya puas, dengan mudah bisa minta apke ruang VIP yang terpisah, yang bisa muat sekitar 12-15 orang.
Sambil menunggu JSers yang lain, dan atas perintah Janti lewat sms yang minta dipesenin aja duluan, maka lima orang pendatang pertama pun berembuk. Mula-mula, dengan gaya JS yang sok mau makan sepiring berdua atau berlima, dan dnegan diwanti-wanti akan pintong, kami memutuskan untuk hanya pesan sedikit saja:
Bebek goreng ½ ekor (Rp25k) – ini untuk membuktikan pujian Lidia
Bebek bakar ½ ekor (Rp25k) – karena saya memang suka bakar2an
Ayam betutu original 2 @ Rp13k – karena saya sudah coba dan terpikat
Lawar, Urap kalas, Tumis jamur bulan masing2 1 porsi @ Rp8k – karena kata Pak BW mesti ada sayurnya biar tetap sehat dan bisa tetap jalan-jalan sambil makan-makan!
Sate lilit ikan 1 porsi isi 5 (Rp15k)
Nasi 6 porsi aja
Mix Juices minta semuanya, 9 gelas dengan aneka rasa @ Rp12k
Air mineral
Air teh tawar
Mula-mula minuman datang satu per satu dan langsung diserbu beramai-ramai, masing2 punya sedotan sendiri. Ternyata semuanya enak, kecuali yang ada campuran caisim-nya, tapi yang ini justru disukai ama… eh sapa ya? Lily?
Jawaranya adalah Blue Delight, suegeeer banget, tampilannya juga cantik, biru menggoda di dasar gelas, lalu di atasnya putih menawan hati, dan di bagian atasnya ada semburat warna abu-abu, sementara rasa yang dominan adalah rasa sirsak. Yang juga dipujiken adalah yang namanya Dalmatian karena memang tampilannya putih berbintik-bintik hitam yang berasal dari serpihan Oreo. Yang stroberi dan bluberry memang enak juga, tapi tidak istimewa. Duuh, maapin Janti, bon-nya hilang, jadi gak hafal nama minumannya.
Sambil menunggu makanan datang, Sienny mengeluarkan irisan dodol keranjang yang digoreng pake telur… yummy! The best dodol keranjang I've ever tasted. Dodolnya lembuuut, dan manisnya cukup, gak giung seperti dodol yang biasa dijual di toko. Makacih ya Sien, sebetulnya pingin juga tuh bawa pulang sisanya, tapi udah keduluan Susi… hehehe, next year ya Sien?
Oke, makanan pun mulai berdatangan dan… aduhai! KURANG BANYAK!!! Dengan kalap semua menyerbu, dan langsung pesan lagi dan lagi dan lagi dan lagi! Akhirnya, pesanan ditambah dengan ½ ekor bebek goreng, ½ ekor bebek bakar, 2 ayam betutu, 1 tumis jamur bulan, 1 urap kalas, dan 4 (atau 5 ya?) porsi nasi.
Yang pertama saya coba adalah bebek bakar, maknyuuus! Dagingnya lembut, bumbunya terasa banget, dan sama sekali tidak pedas menurut lidah saya. Kata Aisa terlalu manis, tapi Non yang satu ini memang ngga suka kecap, so bisa dianggap biased dong – hehehehe
Bebek gorengnya juga sama, lembut dan berasa sekali bumbunya, warnanya cokelat nan cantik. Apalagi ayam betutunya, benar2 jauh lebih enak daripada ayam impor bergambar sang kolonel tea. Warnanya kuning ceria, padahal rasanya puedes bo! Setiap suwiran dagingnya serasa membelai lidah – duh ini mah nyontek ulasan khas Capt Gatot!
Demikian pula sate lilit ikannya, tetap menggoda karena bumbunya yang khas. Sayang kami cuma pesan 1 porsi, jadi kayaknya ada yang ngga kebagian ya? Semua sibuk dengan bebek dan ayam dan sambel dari Warung Sambel.
Oh ya, hampir lupa – sayurannya! 5 porsi semuanya tandas das daaas! Tumis jamur bulannya benar2 lembut menggoda iman! Lawarnya juga pedas2 enak, tampilannya mirip karedok. Sementara urap kalasnya, yakni tumis kacang panjang yang dibalut santan kental, jadi jawaranya. Selintas dalam benak saya ada keraguan, apakah ini kacang panjang dibalut cream cheese? Untung gak keburu nanya, karena Yohana langsung berkomentar: "enak banget ya santennya!" oooh, itu teh santen rupanya! iiih, jadi malu, ketauan gak suka ke dapur!
Oke, sekitar jam 20.30, perut sudah kenyang, tapi kan mesti pintong dong – kan namanya juga anak JS! Karena warung es krim Ritz yang direview dr Sindhi ngga buka hari Selasa, kami memutuskan untuk pintong keee… Honeymoon Dessert di Ciwalk.
Kami ber-10 masih komplit, milih tempat di lantai atas yang bebas asap rokok. Ada 5 porsi dessert yang dipesan... yang mirip ronde pesannya 2 porsi karena ternyata ini favorit banyak orang yang sudah pernah ke situ. Buat saya sendiri yang paling enak adalah bola-bola durian, wuiiiih, heavenly! Mirip kue moci, tapi ukurannya lebih besar, balutan kuenya yang berwarna hijau muda itu lebih tebal dan lembut, dan daging duriannya benar2 muantapf! Lain kali mau diulang ah datang ke situuu…
Yang lainnya lumayan enak juga, sayang lupa namanya, tapi tampilannya seperti kolak bersantan putih, ada butiran hitamn seperti caviar (!!) dan potongan apaaa gitu. Lalu, ada juga "kolak" yang isinya 1 scoop durian dan 1 scoop ketan hitam… yum2 juga… yang kurang enak adalah yang bahannya dari mangga, tapi ya habis juga tuh!
Kami bubar menjelang jam 22.00 dengan janji akan ketemuan lagi bulan depan, menjajal Café Beirut, arabian food, di dekat rumahku di Setiabudi. Mau nyoba sisha! Kan kalo sendiri mah mana berani bo!
Oh ya, kerusakan di LALAH tidak terlalu besar, hanya Rp350k karena ada diskon 15% dengan kartu kredit BCA. Sambel Rp32k, sementara dessert Rp110k. Total sekitar Rp45k per orang, tapi puas deh, soalnya uenaaak banget! Dan suasananya itu lho – money can't buy!
Wuih, rasanya sudah gak sabar menunggu kerusuhan Jser Bandung next month…
Foto akan segera diumumkan dalam posting terpisah oleh Janti dan Sienny dan Susi yang sibuk motret!
Salam nikmat,
Sofia a.k.a. NiFi
Thursday, October 6, 2005
Karya terjemahan dan suntingan
2002
terjemahan
1) A Mother’s Place – Qanita
2) What Our Mothers Didn’t Tell Us – Qanita
3) 50 Ways to A Healthy Heart - Kaifa
Suntingan
1) Terumbu Karang – Remaja Rosdakarya
2) Laut – Remaja Rosdakarya
3) Moluska – Remaja Rosdakarya
4) Corporate Mystics – Kaifa
5) The EQ Edge: Emotional Intelligence and Your Success – Kaifa
2003
terjemahan:
1) Writers Workshop – Kaifa
2) The Philosophers at The End of The Universe – Mizan Pustaka
2004
terjemahan
1) Find Me – Rossie O’Donnel - Gramedia
2) The Burn Journal, Gramedia
3) Annie’s Baby – Gramedia
4) The Judge – Bentang Pustaka
5) The Kabul Bookseller – Qanita
6) Feng Shui Detective Goes South – Bentang Pustaka
2005
terjemahan
1) Organized for Success – Bentang Pustaka
2) Doing Java – Kanisius
suntingan
1) Number The Stars – Serambi; penerjemah: Daisy Subakti
2) Love – Serambi; penerjemah: Ishak Susanto
3) Lake of The Woods – Serambi; penerjemah: Hendrayatna Tafianoto
4) Complications – Serambi; penerjemah: Dr. Zunilda Bustami
5) French Women Don’t Get Fat – Gramedia; penerjemah: Susi Purwoko
6) Send Me Down A Miracle – Serambi; penerjemah: Yulyana
2006
1) The White Castle – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
2) The Things They Carried – Serambi; penerjemah: Hendrayatna Tafianoto
3) South Beach Diet – Gramedia
4) Void Moon – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
2007
1) Everyday Greatness – Gramedia
2) Death du Jour – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
Monday, September 26, 2005
Tuesday, June 21, 2005
ANGLO Resto/Cafe
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Restaurants |
| Cuisine: | Asian |
| Location: | Jl. Cipedes 46A, Sukasari, Gegerkalong, bandung -- telp 022-202-1652 -- buka setiap hari jam 10.00--21.00 |
resto/cafe ini sudah muncul di Bandung Advertiser, tapi iklannya kurang mencolok. kabarnya baru buka skeitar 4 bulan yang lalu. ini resto menawarkan "Javanese cuisine with a Traditional Armosphere" - begitu tertulis di daftar menunya. di satu sisi ada beberapa foto yang memperlihatkan dapur tradisional, pasukan hospitality, soto ayam, pecel madiun, dan foto sepasang suami istri seumuran saya yang sedang dilayani pelayan pria berpakaian Jawa. di sisi satunya lagi daftar menu, antara lain nasi liwet (gaya solo), sop buntut, soto ayam, rujak cingur, bandeng bakar, sate ayam, dll.
dari luar, resto ini tampak "nyeni" dan lumayan terang. di ruang pertama yang tidak berdinding terdapat beberapa meja bundar dengan kursi kayu. beberapa tiang yang digantungi hiasan dari kayu, dan sebuah counter. lalu, antara ruang pertama dan ruang kedua terdapat sedikit rumput (sekitar 3 meteran jaraknya) dan stepping stones untuk melangkah ke ruang kedua. di ruang tak berdinding ini pun terdapat beberapa meja bundar dan ada satu bale2 utk lesehan. putri dan camen saya langsung heboh karena ada mainan congklak. di atas ruangan ini ada ruangan lagi yang menurut pelayan bisa digunakan untuk meeting atau arisan. tangganya dari kayu.
menu yang ditawarkan cukup banyak, dan harganya sangat reasonable, hanya
belasan ribu utk main course (hanya nasi ulam yang Rp22.000). saya pesan nasi ayam asap (Rp12.000) yang direkomendasikan pelayan, putri saya pesan nasi rawon (Rp12.500), sementara camen pesan nasi pindang (Rp12.500). lalu kami pesan tahu gejrot satu porsi (Rp6500). semuanya enak dan mirasa bumbunya.
ayam asap pesanan saya datang dengan potongan ayam yang lumayan banyak, dan dari bentuknya mirip sekali dengan bebek. ketika saya menyuapkan suapan pertama, dan dirasa-rasa, yap, mirip bebek - dagingnya lembut sementara kulitnya krispi. aroma asapnya terasa pas. karena saya suka kecap, maka daging ayam asap itu saya cocolkan ke kecap yang agak cair di piring tahu gejrot. yumyum... aksesoris nasi ayam asap ini adalah irisan timun dan tomat, lalu ada sambal yang mirip sambal utk nasi uduk. namun, karena terlalu pedas, terpaksa saya abaikan.
nasi rawon pesanan putri saya tampaknya enak juga, ditemani oleh telor asin yang dibelah dua. hal yang sama juga menjadi gaya nasi pindang pesanan camen. katanya sih cukup enak.
tahu gejrot - nah ini agak beda tampilannya dgn tahu gejrot Cirebon yang pernah saya kenal 30 tahunan yang lalu. yang ini lebih mirip tahu telor yang di Satay House Senayan. ada tahu goreng dan irisan telor ceplok, ditemani irisan kol, timun, dan tomat. kecapnya dituangkan ke atas ramuan ini. rasanya juga enak sekali.
makan malam kami diakhiri dengan seporsi pisang keju - irisan pisang goreng bertepung, ditaburi serutan keju dan gula aren. nyamnyam, sepiring ada delapan iris pisang yang dari sononya sudah manis, langsung ludes! akhirnya kami pesan lagi dua porsi untuk di rumah!!
semua makanan di atas, plus bandrek, juice strawberry dan teh panas hanya merusak kantong sebesar Rp80.000 sazza!! benar-benar murah meriah.
Tuesday, June 14, 2005
Dari Santa Ursula ke Stanford
TK dan SD Santa Ursula adalah awal tempat saya menuntut ilmu secara
formal. Selanjutnya, saya menyelesaikan SLTP di SMP BPI I dan SLTA di
SMA 2. Semuanya di Bandung. Farmasi ITB (1969-74) adalah almamater
saya. Di Kampus Ganesha
inilah saya melewatkan masa mahasiswa yang manis. Lima tahun setelah
terdaftar, pada bulan Februari 1974, saya diwisuda di gedung
bersejarah, Aula Barat ITB. Pada bulan Oktober tahun yang sama, bersama
sekitar 15 orang rekan lainnya, saya mengucapkan sumpah apoteker di
hadapan
Rektor ITB yang waktu itu dijabat oleh Prof. Dr. Doddy Tisna-Amidjaya
(alm).
Selain pendidikan formal, saya mengikuti pendidikan nonformal.
Yang pertama adalah kursus singkat di bidang penyuntingan buku di
London, Inggris pada tahun 1982. Kursus ini berlangsung selama empat
bulan. Pengalaman manis selama berada di negeri Princess of Wales
ini menyebabkan saya memandang Inggris sebagai negara saya yang kedua.
Apalagi di sana ada keluarga Green -- Brian (penyelia saya), Ann, dan
si kembar Emma dan Daniel, yang usianya hanya setahun lebih muda dari
anak-anak kembar saya. Keluarga Green
telah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Sampai sekarang saya telah
tiga kali mengunjungi London, dan tak akan pernah melewatkannya setiap
kali saya berkunjung ke Eropa.
Pendidikan nonformal yang kedua masih dalam bidang penerbitan,
yaitu Stanford Professional Publishing Course di Stanford University.
Saya mengikuti SPPC ini pada bulan Juli 1989. Berkat mengikuti kursus
ini, nama saya tercantum sebagai salah seorang alumni Stanford
University! Universitas swasta yang terkenal itu!