create your own visited country map
or check our Venice travel guide
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Restaurants |
| Cuisine: | Asian |
| Location: | Jl. Cipedes 46A, Sukasari, Gegerkalong, bandung -- telp 022-202-1652 -- buka setiap hari jam 10.00--21.00 |
TK dan SD Santa Ursula adalah awal tempat saya menuntut ilmu secara
formal. Selanjutnya, saya menyelesaikan SLTP di SMP BPI I dan SLTA di
SMA 2. Semuanya di Bandung. Farmasi ITB (1969-74) adalah almamater
saya. Di Kampus Ganesha
inilah saya melewatkan masa mahasiswa yang manis. Lima tahun setelah
terdaftar, pada bulan Februari 1974, saya diwisuda di gedung
bersejarah, Aula Barat ITB. Pada bulan Oktober tahun yang sama, bersama
sekitar 15 orang rekan lainnya, saya mengucapkan sumpah apoteker di
hadapan
Rektor ITB yang waktu itu dijabat oleh Prof. Dr. Doddy Tisna-Amidjaya
(alm).
Selain pendidikan formal, saya mengikuti pendidikan nonformal.
Yang pertama adalah kursus singkat di bidang penyuntingan buku di
London, Inggris pada tahun 1982. Kursus ini berlangsung selama empat
bulan. Pengalaman manis selama berada di negeri Princess of Wales
ini menyebabkan saya memandang Inggris sebagai negara saya yang kedua.
Apalagi di sana ada keluarga Green -- Brian (penyelia saya), Ann, dan
si kembar Emma dan Daniel, yang usianya hanya setahun lebih muda dari
anak-anak kembar saya. Keluarga Green
telah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Sampai sekarang saya telah
tiga kali mengunjungi London, dan tak akan pernah melewatkannya setiap
kali saya berkunjung ke Eropa.
Oleh-Oleh dari Stanford University, Palo Alto, Juli 1989
Stanford Professional Publishing Course atau SPPC adalah kursus tahunan
yang sejak tahun 1978 diselenggarakan setiap bulan Juli oleh Ikatan Alumni
Stanford University. Kursus yang dibanggakan sebagai ajang untuk memperoleh
"master degree in publishing" ini diperuntukkan bagi para profesional
penerbitan yang berpengalaman sedikitnya tiga tahun.
Peserta, alumni, dan direktori
SPPC tidak hanya diikuti oleh warga Amerika Serikat, tetapi menarik peserta
dari seluruh penjuru dunia. Sampai di usianya yang ke-19 pada tahun 1996
ini, alumninya mencakup lebih dari 2000 orang. Dari jumlah ini, sekitar
20% adalah peserta luar AS, dan sekitar 15 orang di antaranya dari Indonesia,
termasuk penulis.
Setiap tahun, para alumni dikirimi buku daftar
nama dan alamat SPPCer (alumni SPPC), yang tentu saja makin lama makin
tebal. Direktori ini sangat bermanfaat karena dapat digunakan untuk keperluan
bisnis. Baru-baru ini penulis disurati seorang SPPCer Rusia Angkatan 1989,
sengkatan dengan penulis, yang menawarkan pekerjaan untuk cabang penerbitnya
di AS. Penulis juga pernah memanfaatkan Direktori untuk berbagi informasi
dengan sesama SPPCer, misalnya ketika mulai menggunakan Internet dalam
penerjemahan dan penyuntingan. Ketika mengunjungi Tokyo Book Fair 1995,
penulis dijamu dan bertukar informasi mengenai penerbitan di negara masing-masing
dengan seorang SPPCer Jepang. Jadi, Direktori SPPC mengakrabkan silaturahmi
antara sesama SPPCer.
Perlengkapan pendukung
Selama kursus yang berlangsung dua minggu, peserta dianjurkan menginap
di asrama mahasiswa yang kosong di musim panas; tentu saja membayar. Perlengkapan
tambahan yang dapat disewa antara lain telepon dan sepeda. Rupanya sejumlah
peserta dari AS perlu terus berkomunikasi dengan perusahaannya sehingga
memerlukan telepon pribadi di kamar. Sementara itu, sepeda sangat membantu
kelancaran transportasi selama kursus. Kampus Stanford memang sangat luas,
dan jarak dari satu kelas ke kelas lain lumayan jauhnya. Kita bisa saja
berjalan kaki, tetapi lebih asyik bersepeda karena sepeda juga berguna
untuk menjelajahi wilayah kampus di waktu luang, misalnya mengunjungi toko
buku, perpustakaan, pusat komputer, atau sekadar jalan-jalan mengunjungi
Museum Rodin atau belanja ke pertokoan kampus yang amat lengkap, mirip
aneka mal yang terus menjamur di Jakarta. Begitu luasnya kampus Stanford
sehingga jalan di lingkungan kampus ada namanya masing-masing, misalnya
West dan East Campus Drive. Asrama yang banyak bertebaran juga mempunyai
nama, misalnya Schiff House dan Grosvernor House, tempat penulis menginap.
Kursus mengambil tempat di sejumlah ruang kuliah
modern, meskipun kadang-kadang tampilan luarnya terkesan kuno. Untuk mendukung
sajian para perancang, dipakai Annenberg Theater yang luas, yang dilengkapi
layar lebar. Pembicaraan mengenai penerbitan nekamedia yang menggunakan
komputer dan video disc player dilangsungkan di Braun Auditorium
yang memiliki perlengkapan serba mutakhir.
Sejak awal, peserta kursus dibagi menjadi dua
bagian besar -- bagian majalah dan buku. Setiap peserta hanya diperkenankan
memilih salah satu bagian karena sekitar 75% bahan disampaikan secara paralel
dalam ruangan yang berbeda. Jika kita berminat mengikuti keduanya, terpaksa
harus menjadi peserta dua kali. Untuk mengikuti kursus yang kedua kalinya
itu, sebagai alumni, kita berhak mendapat potongan biaya kursus.
Pengajar
Bagaimana staf pengajarnya? Mereka adalah para pakar dari sejumlah penerbit
ternama, antara lain Simon&Schuster, Doubleday, Harper&Row, Addison-Wesley
untuk kelompok buku; dan dari Time, Newsweek, Money, Travel & Leisure,
New York Times dll. untuk kelompok majalah. Di samping pakar penerbitan,
pengajar juga mencakup para ahli perancangan, ahli pemasaran, pakar komputer,
dan sejumlah pembicara tamu yang merupakan orang terkemuka dalam dunia
penerbitan AS. Pada tahun 1989, ketika penulis menjadi peserta, keynote
speaker yang tampil pada malam pembukaan adalah Brendan Gill, wartawan
senior The New York Times. Pembicara tamu lainnya adalah Rick Smolan,
jurufoto sejumlah majalah terkenal dan beberapa orang lainnya. Para pembicara
tamu ini mengisi acara malam hari dalam suasana yang lebih santai.
Acara serius vs acara santai
Jadwal kursus memang padat, sesuai dengan biayanya yang cukup mahal. Pendaftaran
sudah dimulai sejak hari Sabtu sore, dilanjutkan pada Minggu pagi. Pada
Minggu malam, acara pembukaan dimulai dengan santap malam, dilanjutkan
dengan memperkenalkan staf pengajar dan pidato oleh keynote speaker.
Hari-hari selanjutnya diisi aneka ceramah dan peragaan sejak pagi sampai
sore. Diskusi dengan pengajar tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi
juga ketika makan siang yang lezat di bawah pepohonan rindang. Para pengajar
bersantap siang bersama peserta dan bergiliran pindah dari satu meja ke
meja lain setiap hari.
Karena bulan Juli adalah musim panas, siang
hari cukup panjang. Ketika acara kursus berakhir sekitar pukul 17.00, hari
masih terang sehingga peserta masih bisa bersantai, misalnya berenang atau
tenis. Tetapi, waktu luang ini kebanyakan digunakan untuk diskusi kelompok.
Sejak awal, semua peserta memang dibagi menjadi beberapa kelompok yang
mendapat tugas merencanakan penerbitan sebuah buku atau majalah. Setiap
kelompok terdiri atas 8-10 orang. Tugas mencakup seluruh proses penerbitan,
mulai dari menentukan topik yang akan diterbitkan, mencari penulisnya,
membuat garis besar isinya, rancangannya, biaya produksinya, pemasarannya,
dsb. Tampaknya tugas ini cukup berat dan menyita waktu, tetapi sebenarnya
tidak, sebab bukankah para peserta sudah cukup berpengalaman dalam bidang
penerbitan? Namun, ada juga peserta yang merasa terlalu dibebani tugas,
lalu memutuskan untuk tidak mau terlalu berperan dalam mengerjakan tugas,
malah lebih memanfaatkan waktunya untuk menikmati kampus Stanford yang
cantik. Peserta Rusia mengatakan bahwa mereka datang ke AS karena ingin
bersantai, tidak mau serius terus!
Padahal, biaya kursus tidak murah - untuk tahun
1996 ini lebih dari $3000. Dan, penyelenggara juga sebenarnya menyediakan
acara santai. Pada akhir pekan pertama, di hari Minggu, penyelenggara menyediakan
acara menarik yang diikuti oleh hampir semua peserta luar AS. Pada tahun
1989, acara gratis itu adalah mengunjungi Sausalito, sebuah kota cantik
di tepi pantai. Kami berangkat dengan kapal pesiar yang khusus dicarter,
menyusuri teluk San Francisco yang molek, melintas di bawah Golden Gate
Bridge yang terkenal. Di kapal, sebuah kelompok musik menghibur peserta
yang asyik bergoyang mengikuti irama. Tetapi, banyak juga peserta yang
malu-malu dan menghabiskan waktunya dengan mengobrol saja.
Siapa yang terbaik?
Pada hari terakhir, semua kelompok menyajikan hasil tugasnya di depan seluruh
peserta dan pengajar. Tugas ini dinilai oleh tim juri yang terdiri atas
para pengajar. Pada tahun 1989, kelompok penulis meraih juara kedua. Kelompok
kami memang agak 'sableng'; kami berencana menerbitkan buku masak khusus
yang menyajikan aneka masakan dari ... daging anjing! Ini sebetulnya topik
yang sensitif bagi masyarakat Amerika yang dikenal penyayang anjing. Tetapi,
tugas ini ternyata berhasil memikat para juri karena penyajiannya yang
kocak - diuraikan kiat menangkap anjing (mencuri anjing tetangga), cara
membunuhnya (dibanting dalam karung supaya darah anjing tidak menciprati
baju), mengulitinya (karkas digantung di dahan pohon). Yang juga unik dan
menggelikan adalah pilihan nama anjing terkenal untuk setiap resep masakan:
Semur Garfield, Sup Pavlov, Capcay Rin Tin Tin, Gulai Snowy. Anda mau tahu
judul bukunya? Kalau anjing dikenal sebagai sahabat manusia atau men's
best friend, maka buku kami berjudul Men's Best Food!
Dunia tanpa kertas
Pada acara terakhir, digelar panel diskusi. Pada tahun 1989, pokok bahasannya:
Dunia tanpa kertas. Para panelis mengemukakan pandangan mereka tentang
kecenderungan dunia penerbitan di abad ke-21. Pada umumnya mereka berpendapat
bahwa kertas masih akan digunakan dalam dunia penerbitan. Hanya seorang
panelis yang dengan tegas mengatakan bahwa pada tahun 2010 terbitan nekamedia
akan merajalela dan kertas tidak akan digunakan lagi.
Pendapat ini mengundang debat sengit. Seorang
peserta wanita dengan sinis mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau
membaca majalah hiburan sambil melotot di depan layar komputer. Dia lebih
suka membacanya sambil tiduran di kursi malas. Akhirnya, setelah diserang
habis-habisan, si panelis bandel itu 'menyerah' dengan mengatakan: "All
right, I agree that in the year 2010 paper will still be in use ... as
toilet paper ...!"
Kalimat pembuka di atas diucapkan Linda Sivesind, moderator sidang dalam Kongres FIT (Perhimpunan Penerjemah Internasional) 1996 di Melbourne. Linda bertugas memperkenalkan Mr. Aneurin Hughes, seorang tokoh terkemuka dari Uni Eropa.
Sang moderator kemudian melanjutkan kalimat pembukanya dengan menceritakan sebuah kisah: "Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, Hughes muda, seorang mahasiswa berkantung kempes, sedang kebingungan mencari tempat menginap di Oslo, Norwegia. Karena tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa kamar di losmen termurah sekalipun, pemuda Hughes kemudian membaringkan diri di sebuah bangku taman di luar pagar istana kerajaan. Menjelang subuh, dia dibangunkan dan diusir oleh satpam istana ... Waktu pun terus bergulir, musim dan tahun terus berganti ... Hughes muda kini telah menjadi orang, dan menduduki jabatan penting di Uni Eropa. Ketika berkesempatan memenuhi undangan sebuah acara resmi di istana, beliau menceritakan pengalamannya itu kepada tuan rumah, Raja Norwegia. Sang raja tersenyum, lalu berkata: "Mr. Hughes, sekarang Anda boleh menginap, kapan saja Anda kehendaki, di bangku mana saja di halaman istana saya, dan saya jamin satpam saya tidak akan mengusir Anda lagi .…"
Di tengah gemuruhnya tawa dan tepuk tangan hadirin, Linda yang cantik mempersilakan Mr. Hughes tampil ke pentas. Dengan humor yang sama segarnya, Mr. Hughes mengomentari sang moderator beberapa saat, kemudian mulai mengantarkan makalahnya.
Kisah seperti di atas sering terdengar dalam berbagai seminar di mancanegara. Suasana pembukaan sidang terkesan santai, tanpa berkurang bobot keseriusannya. Tidak ada sapaan bertele-tele, tidak ada basa-basi – semua bersifat langsung, dan sering kali malah ceria, khususnya ketika moderator memperkenalkan pembicara.
Memang, sebagaimana kata pepatah, "Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lainan". Ada panitia yang suka dengan gaya agak santai seperti Linda Sivesind, tetapi ada juga yang bersikap serba resmi. Ini semua tampaknya berkaitan dengan budaya atau adat suatu bangsa atau masyarakat. Di negara kita, misalnya, panitia seminar sering kebingungan menentukan kata sapaan yang tepat untuk sejumlah pejabat atau tamu kehormatan yang hadir – siapa yang harus disebut pertama dan siapa yang terakhir, apa gelar akademik sang tamu, apa pangkatnya, apa kedudukannya, dan sebagainya. Ada kalanya, sapaan basa-basi ini berlangsung cukup lama dan menjemukan. Namun, itulah kebiasaan kita, yang tampaknya akan tetap bertahan cukup lama di masa mendatang.
Yang berusaha, yang amat berusaha
Anda mungkin terperangah bila disapa sebagai "Yang Berusaha, Tuan Anu". Tetapi, itulah salah satu sapaan yang pernah terdengar dalam seminar di negara jiran, Malaysia. Karena penasaran, penulis bertanya kepada teman yang orang Malaysia mengenai sopan-santun dalam hal sapa-menyapa ini.
Keterangannya sungguh mencengangkan. Menurut pakar sosio-linguistik ini, ada sekitar 20 kata sapaan yang biasa digunakan di Malaysia. Yang paling sopan tentu saja sapaan "Duli Yang Maha Mulia Sultan Yang Dipertuan Agong". Di bawahnya ada "Duli Yang Teramat Mulia", "Duli Yang Amat Mulia", dan "Duli Yang Mulia". Setelah itu, ada sapaan "Yang Terutama", "Yang Berhormat", dan "Yang Berusaha", yang juga terdiri atas beberapa tingkat. Dapat dibayangkan betapa bingungnya panitia dan betapa panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan acara sapa-menyapa ini jika banyak tamu kehormatan yang hadir dengan berbagai jenjang kedudukan.
Peribahasa atau kata mutiara
Sudah menjadi kebiasaan sementara orang untuk menyisipkan peribahasa, kata mutiara, ucapan orang bijak, atau bahkan puisi dalam pidato mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah ucapan Presiden John F Kennedy pada pidato pelantikannya: "My fellow Americans, ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country". Ucapan yang kini tertatah pada batu pualam di kompleks makam Presiden AS ke-35 ini sering dikutip banyak orang di seluruh dunia.
Meskipun tidak terlalu sering, kebiasaan menyisipkan kata bijak ini juga tampak di Indonesia dan Malaysia. Yang paling sering dikutip pada akhir sebuah acara adalah: "Bila ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi; bila ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi."
Bahkan, di Malaysia, ungkapan tertulis lazim pula digunakan untuk mengakhiri surat. Ungkapan "Cintai Bahasa Kita" sering mengakhiri surat dari Dewan Bahasa dan Pustaka, lembaga yang berperan memajukan bahasa nasional Malaysia. Ungkapan "Ke Arah Pembentukan Industri Terjemahan Di Malaysia" tertulis di akhir sebuah surat dari ITNM (Institut Terjemahan Negara Malaysia Berhad). Kebiasaan manis ini tampaknya belum membudaya di Indonesia, meskipun tidak ada salahnya ditiru karena kita pun kaya akan peribahasa yang menarik untuk diperkenalkan.
Belakangan ini, kata mutiara pun sering menyemarakkan jatidiri seseorang di Internet, yang dikenal sebagai signature karena fungsinya memang mirip dengan tanda tangan, yang sudah lazim kita kenal. Dalam signature di dunia elektronik ini, banyak orang yang selain mencantumkan nama, alamat (pos, fax, e-mail), dan profesinya (misalnya penerjemah bahasa tertentu), juga menambahkan gambar unik atau kata mutiara. Ini hal yang menarik karena kata mutiara pilihan seseorang secara tidak langsung menunjukkan motto hidup pemilihnya. Misalnya, anggota Greenpeace dapat dipastikan mencantumkan kata mutiara yang berhubungan dengan perdamaian dan kelestarian lingkungan.
Miss, Mrs, Ms
Membicarakan bahasa dalam kaitannya dengan kebudayaan suatu bangsa selalu menarik karena setiap kebudayaan memang unik. Dalam penerjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia (BI) sering terdengar tuduhan tentang betapa miskinnya kosakata BI, walaupun sebenarnya si penerjemahlah yang miskin kosakatanya. Buktinya, saya yakin sebagian besar orang Indonesia, yang terpelajar sekalipun, tidak mengenal makna kata "cahi, terok, kakagau" meskipun ketiga kata tersebut ada dalam KBBI. Ketiganya dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris "brother, sample, verdict". Tetapi, seandainya pun kita mengenal ketiga kata Indonesia itu, belum tentu kita mau menggunakannya dalam terjemahan dengan dalih "tidak komunikatif".
Marilah sekarang kita kembali ke masalah kata sapaan. Ketika belajar bahasa Inggris, kita diajari tiga kata sapaan, yaitu Mr untuk pria, Miss untuk nona, dan Mrs untuk nyonya. Sekarang dikenal kata sapaan baru yang netral bagi kaum wanita, yaitu Ms, yang tidak membedakan apakah wanita yang disapa itu belum atau sudah menikah. Sapaan Ms sekarang lebih sering digunakan dan boleh dikatakan jauh lebih populer daripada Miss dan Mrs. Langkah perubahan ini diambil karena kaum wanita tidak mau dibedakan apakah dia sudah atau belum menikah. Sapaan Mr juga tidak menunjukkan status perkawinan si pria yang disapa, bukan?
Tetapi, perubahan ternyata tidak berhenti hanya sampai pada kata sapaan. Penulis pernah terheran-heran ketika membaca tulisan tentang sekelompok wanita di Amerika yang ingin mengubah kata Inggris history menjadi herstory. Kata history, yang konon gabungan dua kata "his" dan "story", dipandang meremehkan kaum wanita! Tetapi, berbeda dengan kata Ms, kata herstory tampaknya tidak lama gaungnya dan bahkan mungkin tidak pernah hidup.
Gerakan "emansipasi" ini ternyata semakin merebak, menyentuh berbagai bidang. Dalam kamus Random House Webster's College Dictionary terbitan 1992 ada tulisan yang khusus membahas kata-kata jantina (sex). Dikemukakan bahwa dewasa ini pilihan kata perlu dicermati karena dikhawatirkan bisa menyinggung perasaan orang, khususnya kaum wanita. Kita tahu, cukup banyak kata Inggris berakhiran "man", padahal sekarang banyak wanita pekerja yang menyandang makna kata yang berakhiran "man" tersebut. Misalnya, kata businessman dianggap tidak adil karena bukankah cukup banyak wanita yang juga menggeluti dunia bisnis. Maka, kata businessman dianjurkan tidak digunakan; sebagai gantinya diusulkan pemakaian kata business person, business executive, atau manager.
Contoh lainnya cukup banyak, misalnya kata man-made yang dianjurkan diganti menjadi artificial atau synthetic, fireman menjadi firefighter, chairman menjadi chairperson, cameraman menjadi camera operator atau cinematographer, mailman dan postman menjadi mail carrier atau letter carrier, steward dan stewardess menjadi flight attendant, salesman menjadi salesperson atau sales representative.
He, She, Dia
Di dalam khazanah BI, masalah jantina tidak sering mencuat karena kata sapaan dalam BI kebanyakan bersifat netral. Simaklah kalimat:
"Dialah wartawan yang memenangkan penghargaan Adinegoro tahun ini".
Kalimat itu tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris jika sebelumnya si penerjemah tidak mengetahui jantina si wartawan. Terjemahannya akan begini:
"He/She is the journalist who won the Adinegoro award this year".
Penutur bahasa Inggris juga pernah mempersoalkan sebutan untuk Tuhan, yang di dalam BI tidak menimbulkan masalah karena kita menyebut-Nya sebagai Dia – tanpa perlu menunjukkan jantina. Dalam bahasa Inggris, sebagai pihak ketiga, Tuhan disebut He, yang mengundang pertanyaan – mengapa He, bukan She?
Lalu, Anda mungkin bertanya: "Kalau begitu, apakah BI lebih kaya daripada bahasa Inggris?" Pertanyaan yang sebetulnya tidak penting karena bahasa tidak usah diperbandingkan kaya-miskinnya, melainkan mampukah penggunanya memanfaatkan bahasa tersebut untuk mengungkapkan dengan cermat gagasan mereka.
(Berita Buku, Juni 1996)