Friday, January 16, 2009
PEMENANG Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09
(1) Teguh Irawan
Hai Teman,
Ini adalah hari ke-5 tahun 2009. Aku punya sepenggal 'puisi' yang kiranya
bisa menginspirasi kita semua; judulnya "EMPAT LIHAT PENUH
BERKAT"
Lihat ke belakang dan Terima Kasih Tuhan
Lihat ke depan dan Percaya Tuhan
Lihat sekeliling dan Layani Tuhan
Lihat ke dalam dan Temukan Tuhan
Tanpa Tuhan, hari-hari kita akan menjadi: Sendih, Siasya, Rabcun, Knangis,
Ju'maut, Sialbtul, dan Mringgis. Jadi biarkanlah Dia menyertaimu setiap
hari!
Kiranya hidupmu penuh berkat hari ini! Tegakkan kepala dan serahkan semua masalahmu kepada Tuhan.
Selamat Tahun Baru 2009!
(2) tim behrend
Hari ini hari kelima tahun 2009! Bersama ini secuil persembahan hikmah yang kiranya mampu menyemangatkan kita semua. Judulnya
PAPALI PANDANG PAPAT
Memandang kemarin dan mensyukuri Allah
Memandang ke depan dan mengandali Allah
Memandang sekeliling dan menghambai Allah
Memandangi diri dan menemui Allah
Sesungguhnya, seminggu tanpa Allah adalah pekan serba tanggung: Minggu termangu-mangu, Isnen keisi keisengan, Selasa selaksa sakat, Rabu rebutan raban, Kamis kemiskinan khairat, Jumat jengkeli jema’at, Sabtu satru senang. Maka bukalah hatimu kepadaNya tiap-tiap hari.
Semoga hari-harimu penuh berkah. Tabahlah selalu. Serahkan segala perkaramu kepada Sang Mahakasih.
Selamat Tahun Baru 2009!!
PEMENANG : rien wahyuni
Apa kabar kawan?
Hari ini adalah hari kelima di tahun 2009. Ada satu inspirasi untuk kita semua, tentang "empat cara pandang yang terberkahi"
Tolehlah masa lalu dan bersyukur kepada-Nya
Tataplah masa depan dan yakin kepada-Nya
Lihatlah sekitar kita dan menghamba kepada-Nya
Tengoklah ke dalam diri dan dapati Tuhan di sana
Tanpa-Nya, Minggu kita terisi dengan hari Minggu yang berlumur dosa, Senin yang berduka, Selasa yang menangis, Rabu yang sia-sia, Kamis yang jauh dari kepuasaan, Jumat yang penuh perselisihan, dan Sabtu yang membawa kehancuran. Maka.izinkanlah Ia mendampingimu setiap hari!
Raihlah satu hari yang terberkahi! Yakinlah! Dan serahkan masalahmu hanya kepada-Nya.
Selamat Tahun Baru 2009!!
TERJEMAHAN IDAMAN
Arif Suryobuwono, Dina S, Lulu Rahman, SM
Bahterawan budiman,
Hari ini hari kelima tahun 2009; inilah rangkaian kata mutiara untuk mengilhami kita semua; judulnya “EMPAT KUNCI PEMBUKA PINTU BERKAH”.
Merenungi masa lalu, dan Bersyukur kepada-Nya
Memandang masa depan, dan Berserah diri kepada-Nya
Memperhatikan sekeliling, dan Berbakti kepada-Nya
Melongok ke sanubari, dan Menemukan-Nya
Tanpa Sang Maha Pengasih, hari-hari dalam sepekan akan menjadi: Senin yang prihatin, Selasa yang gelisah, Rabu yang kelabu, Kamis yang menangis, Jumat yang penuh kesumat, Sabtu yang buntu, Minggu yang tergugu. Jadi, sambutlah kehadiran-Nya setiap hari.
Semoga harimu penuh berkah. Tetaplah tegar dan adukan duka deritamu kepada Sang Maha Penolong.
Selamat Tahun Baru 2009!
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 6
Bahterawan budiman,
Tinggal sedikiiiit lagi yang perlu diulas, sebelum pemenang lomba ini diumumkan…
So allow Him to be with you every day!
Sebagian besar peserta lomba menerjemahkan kalimat sederhana ini menjadi:
Jadi, biarkan (izinkan, perkenankan) Tuhan (Allah, Dia) bersamamu (menyertaimu, mendampingimu, mengiringimu, menemanimu) setiap hari!
Lagi-lagi memang tidak ada yang salah dalam terjemahan di atas. Tapi, coba perhatikan beberapa terjemahan berikut ini, beberapa di antaranya terasa lebih “kaya” makna.
Maka bukalah hatimu kepadaNya tiap-tiap hari. (tim)
Ingatlah selalu kepada-Nya (Allah SWT) setiap hari! (Krisnowati)
Karenanya jangan pernah melupakan Allahmu satu hari pun!! (Sofia Sari)
Jadi, dekatlah dengan Tuhanmu setiap hari (Indraswari)
Jadi, hiduplah dalam naungan-Nya setiap hari! (Preti)
Maka biarkan Tuhan bersama kita senantiasa (Syaranina)
Have a blessed day.
Yang satu ini tidak perlu diulas panjang lebar karena terjemahannya pada umumnya berkisar pada semacam doa agar hari kita diberkahi.
Tapi, terus terang, saya agak bingung karena sejumlah peserta menerjemahkannya menjadi “hari-hari” yang diberkahi, termasuk satu-satunya penutur asli bahasa Inggris, tim. Mengapa jamak? Menurut pengertian saya, doa itu ditujukan untuk hari “ini,” bukan besok atau setiap hari. Sama seperti ungkapan Have a good trip, Have a great week end, Have a memorable time. Semuanya mengacu ke satu hal ’kan? Ke satu perjalanan yang akan segera dilaksanakan, ke suatu akhir pekan yang akan segera dinikmati, ke satu waktu yang diharapkan akan menjadi kenangan. Apakah pengertian saya yang salah?
Keep your chin up and rest your problem in God's Hands.
Ada beberapa peserta yang menerjemahkan “Keep your chin up” secara harfiah:
Tegakkan dagumu (Eko, Yayuk)
Angkat dagumu (Slamet, Tarie, Lia)
Naikkan dagumu (Dewi)
Tinggikan dagumu (Maya)
Bertengadahlah (Sutarto, Krisnowati, Firman)
Di dalam beberapa kamus yang saya buka, ungkapan “keep your chin up” ini berarti meminta orang untuk bergembira, meskipun sedang dilanda kesulitan. Kata yang pas untuk ungkapan ini dalam BI, menurut saya, adalah kata tegar atau tabah.
Lalu, frase “…rest your problem in God's Hands” juga menghasilkan beberapa terjemahan yang bagus, tidak sekadar “serahkan masalahmu ke dalam tangan Tuhan.”
Nah, mari kita simak beberapa terjemahan berikut:
Tetaplah tegar… (Iim Rogayah, Arif, Farah, Yovita, Dina, Deasy, Ran Ran, Lustatin)
Tetaplah ceria… (Teguh Priyanto)
Tetaplah bersyukur... (Anna)
Berdirilah teguh … (Sap Tono)
Tegakkan kepala … (Teguh Irawan, Valentina, Lulu)
Tetaplah tabah... (Angela, Tanto)
Percaya diri… (Woro)
Tetaplah menatap ke depan… (Stefanus)
Busungkan dada… (Sima)
Bersemangatlah… (Ezmieralda)
Yakinlah! (rien)
Bangkit… (Nani, Ruri)
Berdo’alah … (Yahyo)
Tetap semangat… (Franz)
Teruskan perjuangan… (Preti)
Tegakkan kepala dan serahkan segala risaumu padanya. (Abdul Khamid)
Tetaplah tabah serta serahkanlah semua kuatirmu ke dalam tangan Tuhan. (Susan)
Tegakkan kepalamu, dan letakkan kegundahanmu di tangan Tuhan. (Nikolas)
Tersenyumlah selalu dan serahkanlah bebanmu di tangan-Nya. (Christine)
Tetaplah teguh dalam segala situasi. (Sylvia)
Tegakkan kepala dan pasrahkan urusanmu kepada-Nya. (Lulu)
Jagalah keberanianmu dan serahkanlah masalah hidupmu ke dalam tangan Tuhan.(Adisti)
Kuatkan dirimu dan berserah kepada-Nya. (Kresna)
Tataplah ke depan dan serahkan semua rencana dan bencana pada kerahimanNya (Sofia Sari)
Tetaplah optimis dan serahkan semuanya ke tangan Tuhan (Indraswari)
Melangkahlah dengan tegar, karena Dia maha menuntun (Baskara)
Tabahlah selalu. Serahkan segala perkaramu kepada Sang Mahakasih. (tim)
Akhirnya, tibalah kita pada kalimat terakhir. Tidak ada yang salah atau keliru menerjemahkannya!
Selamat tahun Baru 2009!
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 5
Bahterawan budiman,
Nah, sekarang kita tiba di bagian yang paling seru dan saya yakin ditunggu-tunggu oleh semua peserta lomba.
Without God, our week is: Sinday, Mournday, Tearsday, Wasteday, Thirstday, Fightday and Shatterday.
Piawai sekali si pengarang membuat plesetan nama-nama hari ini ya? Dengan melafalkannya keras-keras, semua plesetan nama hari itu mirip sekali dengan nama hari yang sebenarnya. Bukan hanya itu. Nama plesetan itu juga “semuanya” mengungkapkan hal negatif atau memilukan.
Nah, pesan inilah – ungkapan negatif atau memilukan – yang sebetulnya harus mencuat dalam terjemahan. Itu menurut saya lho. Jadi, bukan sekadar memlesetkan nama hari, atau menerjemahkan sin = dosa, mourn = berkabung, tears = air mata, dan seterusnya.
Saya sendiri, ketika sudah berbaring hendak tidur hari Senin yang lalu itu, pikiran saya terus berputar mereka-reka nama plesetan. Minggu jadi apa ya? Senin? Senewen? Seniwen? Selasa? Rabu? Wah, susah amat ya. Hmm, bagaimana kalau nama hari tetap disertakan, tapi ditambah 1-2 kata yang serasi, seirama? Rabu kelabu, misalnya. Sepertinya lebih mudah... ternyata tidak juga! Tapi, setidaknya banyak kata yang bisa dikotak-katik.
Oke, satu demi satu terjemahan saya terima dan beberapa kali saya membacanya dengan terpingkal-pingkal di saat membaca terjemahan nama hari yang “maksa” pisan! Yang saya ingat antara lain terjemahan Tanto Hendy, Sima, dan Teguh Irawan. Aiiih, kalian maksa pisan deh!
Terjemahan sejumlah Bahterawan lain membuat saya terkagum-kagum karena begitu puitis, misalnya terjemahan Anna Wiksmadhara, yang sayang sekali tidak menyertakan nama hari. Ada beberapa lagi yang sama puitisnya dengan terjemahan Anna. Terjemahan James Pantou (terjemahan pertama yang masuk) membuat saya terpesona karena pilihan katanya yang bersajak, tidak sekadar menerjemahkan sin, tears, atau waste. Juga ada beberapa yang terjemahannya bersajak serasi seperti terjemahan James.
Namun, ada juga terjemahan yang membuat saya tersenyum simpul, seperti yang berikut in:
Hari yang kehausan (Ezmieralda)
Hari yang berdosa (Christine, Adhi)
Sabtu tersarabara (Dina)
Yang kehausan dan berdosa itu manusia ya, bukan hari? Lalu, saya cari kata sarabara di KBBI, tapi tidak berhasil menemukannya. Apa ya artinya, Dina?
Baiklah, mari kita simak bersama kelompok nama hari yang diplesetkan. Mana yang menurut Anda paling “bagus” atau paling “sableng”? Saya yakin dua yang terakhir di antara para pencipta nama hari ini memang berniat untuk bercanda! Hayo, ngaku! hehehe
Sofia Sari
Minim, Senteng, Selara, Ragu, Kalut, Jumpalitan (enam hari?)
Tanto Hendy
Minggat, Senewen, Selara, Rabun, Amis, Kumat, dan Sabu-sabu
Nikolas
Mingung, Sendih, Selapar, Ragu, Kamiris, Jumpatah semangat, dan Satakut
Ran Ran
Mingkem, Senting, Sedosa, Rapuh, Krisis, Jujat, dan Sedu
Baskara
Minggat, Sendiri, Sengsara, Rabun, Kambuh, Jungkat, Sendu
Sima Gunawan
Senewen, Celaka, Rabun, Kampret, Jumawa dan Sableng (Minggu-nya mannaaa?)
Teguh Irawan
Sendih, Siasya, Rabcun, Knangis, Ju'maut, Sialbtul, dan Mringgis
Kelompok berikutnya adalah tujuh ungkapan yang berusaha menerjemahkan makna yang digunakan pengarang naskah asli, yang diolah dengan pemilihan kata yang bersajak:
Iim Rogayah
hari penuh dosa, hari penuh duka, hari penuh air mata, hari yang sia-sia, hari penuh dahaga, hari penuh laga, dan hari penuh luka
Anna Wiksmadhara
Hari yang penuh dosa, Hari yang penuh nestapa, Hari yang penuh air mata,
Hari yang penuh sia-sia, Hari yang penuh dahaga, Hari yang penuh prahara, dan
Hari yang penuh petaka
Kelompok di bawah ini juga menampilkan pilihan kata bersajak (menurut KBBI: tertib, memperhatikan bunyi dan susunan):
James
Minggu Dosa, Senin Nestapa, Selasa Air Mata, Rabu Sia-sia, Kamis Dahaga, Jumat Sengketa, dan Sabtu Binasa
Tarie
Minggu Berdosa, Senin Berduka, Selasa Berlinang Air Mata, Rabu Merana, Kamis Dahaga, Jumat Berlaga, dan Sabtu Sengsara
Lustatin
Hari Termangu, Hari Dingin, Hari Nelangsa, Hari Kelabu, Hari Menangis, Hari Sesat, dan Hari Buntu
Habibah
Minggu: terganggu, Senin: Sentimen, Selasa: putus asa, Rabu: ragu, Kamis: menangis, Jumat: sesumat, Sabtu: kelabu
Firman
Senin Sendu, Selasa Nelangsa, Rabu Kelabu, Kamis Kering, Jumat Hujat, Sabtu Berbatu, dan Minggu Belenggu
Syaranina
Minggu: penuh gerutu; Senin: terombang-ambing; Selasa: penuh dosa;
Rabu: penuh ragu; Kamis: menangis; Jumat: tak manfaat; Sabtu: kelabu
Lulu
Senin yang prihatin, Selasa yang gelisah, Rabu yang kelabu, Kamis yang menangis
Jumat yang bejat, Sabtu yang buntu, Minggu yang tergugu
Last but not least… tim
Minggu termangu-mangu, Isnen keisi keisengan, Selasa selaksa sakat, Rabu rebutan raban, Kamis kemiskinan khairat, Jumat jengkeli jema’at, Sabtu satru senang
Ada yang ketinggalan! Yang satu ini betul-betul terjemahan sangat unik, membuat saya tertegun sejenak, lalu manggut-manggut:
Tanpa Tuhan hari-hari kita hanyalah Senin-Kamis. Maka jadikanlah Dia menjadi bagian darimu setiap hari untuk menggenapinya. (Franz)
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 4
Bahterawan budiman,
Yuk kita lanjutkan pembahasannya. Saya bukan "kerajinan" lho, tapi memang senang mengerjakan ini, menulis ulasan seperti ini. Kebetulan juga hari ini sudah tidak ada pekerjaan. Nanti malam dan 2 hari besok, nah bakalan sibuk karena harus menyunting terjemahan 8500an kata, yang dialokasikan waktu 9 jam oleh klien. Oke, yuk kita mulai...
Look back and Thank God
Look forward and Trust God
Look around and Serve God
Look within and Find God
Yang menarik perhatian saya di sini adalah mengapa ada empat kata yang ditulis dengan diawali huruf kapital? Dugaan saya, penulisnya ingin menegaskan keempat kata itu – Thank, Trust, Serve, dan Find. Gejala ini – menuliskan kata yang dianggap penting dengan mengawalinya dengan huruf kapital – cukup sering kita jumpai, padahal, cara penulisan ini tidak mematuhi EYD karena menyisipkan kata berawal huruf kapital di tengah kalimat.
Menurut Prof Adjat Sakri (alm), mentor saya yang sangat saya kagumi, gejala meng-kapital-kan huruf awal kata atau frase yang dianggap penting pernah sangat parah di masa Orde Baru. Contohnya: Pancasila diperlukan untuk Membangun Bangsa agar Indonesia menjadi bangsa yang Dihormati bangsa-bangsa lain.
Kadang-kadang, penggunaan kata berawal huruf kapital di tengah kalimat begitu boros sehingga tampilan naskah menjadi “renjul.” Mana kata yang penting juga jadi tidak jelas akibat begitu banyaknya kata yang ditonjolkan. Pak Adjat itu dosen Jurusan Seni Rupa ITB, jadi tentu sangat peduli dengan keindahan, dalam hal ini tampilan naskah.
Sebetulnya, ada beberapa cara lain untuk menegaskan atau menekankan kata atau frase dalam suatu kalimat, antara lain dengan menebalkan atau memiringkan huruf, atau menempatkannya dalam tanda petik. Dan, jika warna bisa ditampilkan, kata atau frase itu bisa ditulis dengan huruf berwarna atau disorot dengan warna.
Nah, bagaimana peserta lomba menerjemahkan “puisi” di atas? Amat banyak versinya, tetapi cukup banyak yang “hanya” menerjemahkan apa adanya, kurang “menggigit.” Contoh terjemahan yang menurut saya biasa-biasa saja adalah:
Pandanglah ke belakang dan bersyukurlah kepada Tuhan
Pandanglah ke depan dan percayalah kepada Tuhan
Pandanglah ke sekelililing dan layanilah Tuhan
Pandangkan ke dalam dan temukan Tuhan
Tidak ada yang salah dalam terjemahan ini, tetapi terlalu harfiah dan “sederhana”, bukan? Memandang ke belakang atau ke depan itu memandang ke arah mana? Akan lebih bermakna jika kedua arah itu diterjemahkan, misalnya, menjadi Pandanglah masa lalu (atau hari kemarin), dan Pandanglah masa depan (atau hari esok). Versi yang agak “kaya” ini digunakan oleh sejumlah peserta. Bravo!
Yang unik, Yahyo Wiyono menggunakan kata “mewawaslah,” selaras dengan judul yang dipilihnya, Empat Wawasan Terberkati. Tetapi, jika disimak lebih cermat lema “wawas” dalam KBBI, menurut saya, lebih pas jika digunakan kata “wawaslah” alih-alih “mewawaslah” sebagai padanan “look.”
Selanjutnya, ada yang menerjemahkan “Look around and serve God” menjadi “Tataplah orang-orang di sekelilingmu…” (Sofia Sari) dan Lihat sekelilingmu dan kasihilah/layanilah/bantu sesama (aRy, Susan, Franz). Menurut saya, mungkin lebih tepat jika pandangan ke sekeliling atau ke sekitar itu tidak dibatasi pada memandang orang, tetapi memandang makhluk hidup lain, termasuk memandang lingkungan. Tuhan pasti senang jika hamba-Nya melayani-Nya dengan melestarikan bumi dan lingkungan, bukan merusaknya!
“Look within” juga, menurut saya, terlalu harfiah jika sekadar diterjemahkan menjadi “Pandanglah ke dalam.” Ke dalam apa? Sejumlah peserta menambahkan kata lain sehingga terjemahannya menjadi lebih bermakna (menurut saya):
… ke dalam hati (Sofia Sari, Susan, Angela, Syaranina, Eko)
... ke lubuk hati (Indraswari, Woro, Preti)
… ke dalam jiwa (Ran Ran, Stefanus)
… ke sanubari (Dina)
… ke dalam diri (Sylvia, Firman, tim, Yovita, Ezmieralda, rien, Lia, Baskara, Habibah, Fenty)
Baiklah, berikut ini saya sajikan beberapa versi terjemahan puisi ini; ada yang hanya saya sajikan satu baris saja untuk menunjukkan penggunaan kata lain selain keempat kata “sederhana” di atas, tetapi ada juga yang saya sajikan lengkap keempat baitnya karena merupakan kesatuan yang utuh.
Look forward and Trust God
Pandanglah ke depan dan berserahlah pada Tuhan (Nikolas)
Tataplah masa depan dan Percayakan Langkahmu kepada Tuhan (Eko)
Lihat ke depan dan Imani Tuhan (Sutarto Mohammad)
Pandanglah ke depan dan bersandarlah kepada Tuhan (Rukiah Tio)
Tatap ke depan, and ikhlaskan semua kepada Allah (Sofia Sari)
Tengoklah ke depan dan berimanlah kepada Tuhan (Allah SWT) (Krisnowati)
Look around and Serve God
Lihat sekeliling dan berserah kepada Tuhan (Syaranina)
Pandanglah ke sekelilingmu dan Mengabdilah kepada Tuhan (Angela, Preti)
Lihatlah ke sekelilingmu dan berbaktilah pada Tuhan (Iim, Lia)
Pandanglah ke luar dan patuhilah Tuhan (Ruri)
Pandanglah ke sekitar dan Berkaryalah untuk Tuhan (Valentina)
Lihat sekeliling dan bantu Tuhan untuk bantu sesama (Franz Widjojo)
Tataplah orang-orang disekelilingmu dan layanilah AllahMu (Sofia Sari)
Tengoklah ke sekeliling dan bertakwalah kepada Tuhan (Allah SWT) (Yayuk, Krisnowati)
Look within and Find God
Lihatlah ke lubuk hati dan temukan Tuhan (Indraswari)
Lihat dalam diri dan hadirlah Ilahi (Habibah)
Rasakan dan Temukan kuasanya (Adhi)
Tengoklah ke dalam dan mohonlah kepada Tuhan (Allah SWT) (Krisnowati)
Dina
Merenung masa lalu, dan Bersyukur kepada-Nya
Memandang ke depan, dan Berserah diri kepada-Nya
Memperhatikan sekeliling, dan Berbakti kepada-Nya
Melongok ke sanubari, dan Menemukan-Nya
Baskara
Menoleh ke belakang, bersyukur kepada-Nya
Menatap ke depan, berserah kepada-Nya
Menyimak ke sekitar, bersahaya kepada-Nya
Menilik ke diri, bersapa kepada-Nya
tim
Memandang kemarin dan mensyukuri Allah
Memandang ke depan dan mengandali Allah
Memandang sekeliling dan menghambai Allah
Memandangi diri dan menemui Allah
aRy
Tetap bersyukur atas apapun yang telah terjadi
Berpeganglah pada-Nya dalam menembus masa depan
Lihat sekelilingmu dan kasihilah sesama
Lihatlah kedalam hatimu dan temukan Dia di sana
Susan Kumaat
Lihatlah ke belakang dan Berterima kasihlah kepada Tuhan atas semua berkat Nya
Lihatlah ke depan dan Percayalah akan penyertaan Tuhan dalam hidup Anda
Lihatlah ke sekeliling Anda dan Layanilah sesamamu untuk kemuliaan Tuhan
Lihatlah ke dalam hati Anda dan TemukanlahTuhan
Ran Ran
Lihat ke belakang, bersyukurlah kepada Allah
Lihat ke depan, berimanlah kepada Allah
Lihat ke sekeliling, berjuanglah di jalan Allah
Lihat ke dalam jiwamu, temukan Allah
Lulu Rahman
di belakangmu, yang ada rasa syukur
di depanmu, yang ada harapan
di sekelilingmu, yang ada semangat
di dalammu, yang ada Tuhan
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 3
Bahterawan budiman,
Sekarang mari kita ulas setiap penggal naskah yang diterjemahkan dan hasil terjemahannya. Saya sama sekali tidak bermaksud sok pintar atau menggurui, melainkan sekadar menyampaikan ulasan sebagai masukan saja. Mungkin saja pendapat saya ini “salah” menurut mereka yang lebih sering menggeluti naskah bergaya puitis seperti ini. Ya, maaf saja deh kalau begitu! Hehehe…
Hi Friends
Ada sejumlah peserta yang tidak menerjemahkan salam sapaan ini sehingga nilainya berkurang 1 poin. Tetapi, peserta lomba umumnya menerjemahkan sapaan ini dengan Hai Teman (ada yang mempertahankan gaya huruf besar, ada yang lebih wajar dengan menggunakan huruf kecil pada Friends). Ada juga yang menggunakan bentuk jamak teman-teman, dan ada pula yang berimprovisasi menyertakan perasaannya, yang menurut saya bagus. Tetapi sayang, tidak ada yang menerjemahkannya sesuai dengan harapan saya, yakni sapaan favorit saya, Bahterawan budiman... padahal, bukankah terjemahan ini disampaikan dalam milis Bahtera?
Versi lain dari “hai” adalah wahai, hei, halo, sementara versi lain dari “teman” adalah sobat, sahabat, kawan.
Beberapa terjemahan yang agak lain adalah:
Halo teman-teman sekalian
Halo sobat sekalian
Teman-teman sekalian
Sahabatku
Temans (Henki Rianto)
Kawan-kawan yang budiman (Farah)
Apa kabar kawan? (Rien Wahyuni)
Teman-temanku terkasih (Sofia Sari)
Hi, rekan yang beriman (Adhi)
Today is the 5th day of 2009, here's something to inspire all of us, titled " THE FOUR BLESSED LOOKS"
Yang pertama, menurut saya, kalimat ini tidak memenuhi kaidah tata bahasa karena kehilangan kata perangkai antara 2009 dan here’s. Selain itu, tanda titik sebagai penuntas kalimat juga hilang. Dua kesalahan ini pada umumnya dibiarkan oleh peserta lomba, tetapi ada juga beberapa orang yang menyiasati kalimat ini sehingga menghasilkan terjemahan yang bukan saja wajar, tetapi sekaligus memenuhi kaidah tata bahasa.
Yang kedua, kata “inspire” ternyata menghasilkan beberapa terjemahan. Ungkapan menginspirasi, memberikan inspirasi, petikan inspirasi, sebagaimana yang sudah diduga, menjadi pilihan sebagian besar peserta, selain cukup banyak juga yang menggunakan kata ilham dan mengilhami. Kata atau frase lain yang ditambahkan, yang menurut saya memperindah kalimat ini adalah: rangkaian kata mutiara (Arif), renungan (Henki, Indraswari, Lia), secuil persembahan hikmah (tim)…
THE FOUR BLESSED LOOKS
Wah, terjemahan judul ini juga seru!
Penggunaan angka 4 di awal judul ini, menurut saya kurang pas, selain juga menyalahi aturan EYD. Tapi, mungkin sah-sah saja dalam judul puisi? Begitukah? Menurut saya, lebih baik dieja saja seperti judul aslinya.
Terjemahan yang paling banyak versinya adalah “Pandangan yang penuh berkah” atau “Pandangan yang diberkahi.” Menarik untuk disimak penggunaan kata “berkah” dan “berkat.” Menurut dugaan saya, penganut Islam cenderung menggunakan kata “berkah,” sementara penganut Nasrani cenderung menggunakan kata “berkat.”
Selain kata “pandangan,” yang menurut saya paling pas, terdapat juga kata lihat, penglihatan, tatapan, tengok, tengokan, tengok-tengok.
Yang mengejutkan saya, ada juga yang menerjemahkannya menjadi “penampakan”! yang dalam benak saya langsung berkonotasi dengan penampakan makhluk halus...
Beberapa terjemahan judul yang lain daripada yang lain adalah:
Empat Penjuru Penuh Berkah (Lulu Rahman)
Empat Anugerah Melihat (Abdul Mukhid)
Empat Anugerah Penglihatan (Indraswari)
Empat Persona (sic) Karunia (Dina S)
Empat Renungan yang Diberkati (Lia Adhiyani)
Empat Aspek yang Mendatangkan Kebaikan (Yayuk Sasmitaningsih)
Empat Kunci Kebahagiaan (aRy)
Restu di Empat Penjuru (Baskara Surya)
4 Pandangan yang Membahagiakan (Christine Elizabeth Suryani)
Empat Wawasan Terberkati (Yahyo Wiyono)
Empat Langkah Hidup Berkah (Farah)
Empat Melihat yang Diridhoi (Henki Rianto)
Empat Arahan yang Memberkati (Maya Andriawan)
Empat Pandangan Kesucian (Adisti Herliningtyas)
Empat Penampakan yang Diberkahi (Krisnowati)
Dan dua yang sangat unik:
Tengok-Tengok Berhadiah (Sima Gunawan)
Papali Pandang Papat (tebak siapaaaaa????)
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 2
Bahterawan budiman,
Perlu diketahui, ada sejumlah hal penting yang dinilai dan menentukan jumlah poin plus dan minus pada hasil terjemahan.
1. Kelengkapan – tidak boleh ada bagian yang tidak diterjemahkan, dan sebaliknya, tidak boleh ada tambahan yang tidak perlu, misalnya mencantumkan kata berbahasa Inggris yang menjadi sumber naskah. Untuk apa? Tetapi, tambahan kata yang memperindah terjemahan tentu saja diizinkan. Untuk diketahui, naskah soal dimulai dari Hi Friends, dan berakhir dengan Happy New Year 2009. Penghilangan atau penambahan kata atau frase yang tidak perlu dapat mengurangi nilai. Beberapa peserta yang terjemahannya baik terpaksa berkurang nilainya gara-gara ada bagian naskah yang hilang ini… sayang sekali!
2. Kecermatan berbahasa – sampai batas tertentu (gaya huruf kecil, huruf besar, atau huruf miring diperbolehkan), pedoman EYD harus dipatuhi, misalnya menuliskan kelima atau ke-5 (bukan ke 5 atau ke lima), ke depan (bukan kedepan), diberkati (bukan di berkati), kepada-Nya (bukan kepadaNya), harimu (bukan hari mu), berterimakasihlah (bukan berterima kasihlah). Ada peserta yang sangat ceroboh dalam hal EYD ini sehingga nilainya berkurang banyak. Saya juga sedih sekali melakukan pengurangan nilai ini!
3. Daya cipta – pilihan kata dan frase berperan besar untuk menghasilkan terjemahan yang bukan saja berhasil menyampaikan pesan si penulis, melainkan juga indah dan menggugah perasaan pembaca (dalam hal ini saya, sebagai penilai). Yang paling besar bobot nilainya adalah terjemahan keempat “look at” dan tentu saja nama-nama hari, baik yang dipelesetkan ataupun yang disusun bersajak indah, sesuai dengan nama hari dalam BI.
Dari patokan penilaian ini, untuk sementara, hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Nilai 80-92 : 15 orang
Nilai 70-79 : 26 orang
Nilai 60-69 : 13 orang
Nilai 54-59 : 2 orang
Hasil ini masih belum final karena saya merasa masih harus mencermati lagi terjemahan yang masuk nominasi pemenang karena ada terjemahan yang di satu aspek bagus, di aspek lain kurang “menggigit.” Ini membuktikan tidak ada terjemahan yang betul-betul “sempurna” ya?
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Ulasan 1
Bahterawan budiman,
Kurang meriah rasanya kalau saya hanya sekadar mengumumkan 1-2 orang pemenang dari 56 orang Bahterawan yang mengikuti lomba ini, ditambah 1 orang yang terlambat (maaf ya Eva, tidak bisa diikutkan ke ulasan, tapi terima kasih karena sudah mengirimkan terjemahannya). Karena itulah, sebelum mengumumkan siapa pemenang Lomba Penerjemahan Bahtera, Januari 2009 ini, saya ingin menyampaikan ulasan, yang akan dikirimkan dalam beberapa tahap agar Bahterawan tidak capek membacanya.
Awal mula gagasan lomba ini muncul ketika saya mendapatkan teks ini dari seorang teman lewat email, dan begitu membacanya, selain merenungkan isinya yang begitu indah, saya juga berpikir betapa sulitnya memelesetkan nama-nama hari dalam bahasa Indonesia. Kemudian, langsung tercetus gagasan untuk menggali kemampuan anggota Bahtera untuk menerjemahkan teks yang gampang-gampang sulit ini. Dan sungguh saya senang sekali karena lomba pertama ini, yang disambut hangat para moderator yang memberikan izin pemuatannya, berhasil mengeluarkan begitu banyak pengintip, pengintai, lurker dari lubang persembunyiannya masing-masing, yakni Bahterawan yang namanya belum pernah atau jarang sekali muncul di milis. Terima kasih sekali lagi atas partisipasi Anda semua!
Berikutnya, di bawah ini saya kerat-tempelkan komentar dan alasan para peserta mengikuti lomba. Lucu-lucu deh!
Nikolas Triwardana
saya juga mau ikutan menjajal keberuntungan berburu flash disk...=)
rien wahyuni
saya rina, mau ikutan coba-coba menerjemah hehe..(baru belajar bu...)
Susan Kumaat
Ikut meramaikan acara ini - mudah-mudahan masuk 10 besar - hahahaha terlalu optimis nich....
Senang ada kontes - jadi seru dan saya suka makna dari teks yang dilombakan.
Nani Iwan
saya 'memberanikan' diri ikut berpartisipasi dalam lomba yang Ibu gagas.
Abdul Mukhid
Saya tertantang ikut lomba terjemahan dari ibu.
Syaranina Syemmy
Sebenarnya dari kemarin mau dikirim tapi gak PEDE
Ezmieralda Melissa
hasil penerjemahan saya belum pernah mendapatkan kritik dari penerjemah yang sudah berpengalaman
Valentina Utari
tersentuh dengan tulisan tersebut sehingga saya ingin membagikannya kepada yang lain dalam versi Bahasa Indonesia
Ran Ran
Bagian tersulit adalah menerjemahkan hari-harinya
Firman
Saya juga pengintai setia
Baskara Surya
memberanikan diri untuk ikut dalam lomba terjemahan di Bahtera… saya pemerhati milis Bahtera, namun sangat tergugah untuk berperan-serta dalam penerjemahan.
James Pantou
moga-moga lurker yang mungkin udah dua tahunan lebih ga sumbang suara sumbang apapun di milis Bahtera diperkenankan ikut serta walau hanya untuk memeriahkan saja.
Rukiah Tio
Saya mencoba menerjemahkan, bukan untuk menang (menjadi yang terbaik), juga bukan demi hadiahnya. Saya hanya tertantang untuk menerjemahkan karena:
....memerlukan daya cipta dan cita rasa tinggi untuk dapat menghasilkan terjemahan yang "benar" dan "tepat," sekaligus "indah."
Krisnowati
Kesertaan saya hanya sekedar meramaikan penerjemahan di luar bidang saya
Teguh Priyanto
Tolong jangan diketawain ya, soalnya saya masih pemula
Yahyo Wiyono
Siapa tahu bisa jadi pemenang :)
Fenty Yustini
buat saya yang penting koreksi-nya biar saya tau kesalahan saya..tapi ga nolak juga kalo dapet flash disk..
Sofia Sari
ikutan lomba untuk meramaikan
Iim Rogayah
saya mau belajar ikut lomba ya
Teguh Irawan
Semoga bisa ikut membuat Ibu senang meskipun jelek, hehehe..
Lustatin Soeprawoto
ini lomba yang menarik dan menantang
Lomba Penerjemahan Bahtera, Jan 09 - Pengumuman
Bahterawan budiman,
ulang tahun ke-12 Bahtera masih lama, masih 6 bulan lagi, tapiiii...
saya sedang berbaik hati niy... :) ... dan ingin menantang Anda untuk
mengikuti lomba penerjemahan a la Bahtera.
silakan terjemahkan teks di bawah ini, yang menurut saya memerlukan
daya cipta dan cita rasa tinggi untuk dapat menghasilkan terjemahan
yang "benar" dan "tepat," sekaligus "indah."
hadiahnya sebuah flash disc mungil yang warnanya akan disesuaikan
dengan jantina Anda! :) dan kalau bisa akan ditatah dengan nama
BAHTERA (di manaaa ya di Bandung ada tukang gravir? ada yang tau?)
ketentuan lomba:
01. terjemahan dikirimkan HANYA LEWAT JAPRI ke alamat email saya
(sofiamansoor at gmail dot com)
02. terjemahan yang dikirimkan ke milis akan dianulir dan tidak akan
diikutsertakan dalam lomba
03. terjemahan bebas
04. jurinya cuma saya seorang (kalau pun ada juri "bayangan," itu
rahasia dan hak prerogatif saya sebagai penyedia hadiah - huahahaha)
05. tenggat: KAMIS 8 Januari 2009 jam 20.00 WIB atau ketika saya
mematikan komputer pada hari itu -- bisa jam 22.00 bisa juga jam 02.00
keesokan harinya, tergantung pada apakah saya mengalami insomnia atau
tidak pada malam itu
06. lomba ini boleh diikuti semua Bahterawan, baik yang berpredikat
moderator ataupun bukan, baik yang sudah 11 tahun 6 bulan menjadi
anggota Bahtera maupun yang baru semenit menjelang tenggat, baik yang
tinggal di dalam negeri ataupun di mancanegara
07. tidak ada surat-menyurat, baik lewat sms, email, maupun FaceBook,
apalagi lewat pos ke Ciumbuleuit
08. keputusan juri berlaku mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
09. nama satu orang pemenang akan diumumkan secepat-cepatnya Jumat 9
Januari 2009, selambat-lambatnya Senin 12 Januari 2009
selamat mengikuti lomba!
salam,
sofia a.k.a. NiFi a.k.a. dewini
================================
Hi Friends,
Today is the 5th day of 2009, here's something to inspire all of us,
titled " THE FOUR BLESSED LOOKS"
Look back and Thank God
Look forward and Trust God
Look around and Serve God
Look within and Find God
Without God, our week is: Sinday, Mournday, Tearsday, Wasteday,
Thirstday, Fightday and Shatterday. So allow Him to be with you every
day!
Have a blessed day! Keep your chin up and rest your problem in God's Hands.
Happy New Year 2009!
Wednesday, April 2, 2008
OBITUARI - Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto yang saya kenal
OBITUARI
19 Februari 1926 –
Selama perjalanan singkat dengan bis menuju hotel, kami terus bercakap-cakap. Saya sudah lupa apa persisnya yang kami percakapkan, tapi tidak jauh dari soal penerbitan buku dan lingkungan serta orang-orang yang sama-sama kami kenal dari kedua dunia tersebut. Yang saya ingat, saya terkagum-kagum mendengar obrolan beliau dan merasa beruntung dapat berkenalan dengan orang sepenting beliau.
Wednesday, March 19, 2008
Kerusuhan JSers Bandung 11 Maret 2008
Semuanya dimulai dengan email Aisa ke beberapa orang JSers Bandung awal Maret, biasaaa, ngomporin agar kita kumpul untuk menjajal Warung Sambel di Jl. Dago.
Tapi, kompor ini ditanggapi oleh salah seorang JSr bahwa sambelnya ngga enak, muahal pula. Dari sekian banyak sambel, cuma satu yang enak katanya (sori, lupa lagi yang mana). Yeee, ngapain juga atuh nyobain makanan yang udah jelas gak enak? Ntar hanjakal lagi dong, seperti waktu JSers Bandung menjajal Rawon Setan Bu Endang di Paskal Square, yang gak ada enak-enaknya sama sekali. Persis seperti review di milis JS baru2 ini. Hueraaaan, kok laku ya? Sampe bisa buka cabang di banyak tempat?
Anyway, busway, saya coba ngomporin dengan mengajukan Warung Bali LALAH sebagai alternatif — makanannya juga sama pedes, tapi rasanya bisa diacungi 2 jempol. Buktinya LALAH dapat pujian dari Lidia Tanod yang bikin reviewnya di milis JS, yang juga mampir ke sana atas komporannya Cindy Ceretch. Pasti ngga akan meleset lah, wong seleras Lidia suka klop kok ama selera saya.
Eh, ternyata banyak yang setuju, maka disepakatilah kerusuhan JS Bandung kali ini akan berlangsung Selasa 11 Maret jam 7 malam di LALAH, dengan pintong TBD (to be determined) – hehehe, kayak status Ketua PSSI di website FIFA aja neh!
Setelah seminggu pengumuman itu beredar, tercatat belasan JSers Bdg yang akan ikut kerusuhan kali ini, tapi pada Hari-H ternyata yang ngumpul hanya 10 orang: Budi + istri, Sofia, Yohana, Susi, Janti, Sienny, Aisa, Linda Cheang, dan Lily (ditulis berdasarkan urutan kedatangan).
Sienny, Aisa, dan Janti mampir dulu ke Warung Sambel, beli sambel untuk dibawa ke LALAH. Terang aja pelayan LALAH pada bengong, kok ini rombongan minta piring kosong untuk tempat sambel dari resto laen? Hihihihi, untung gak disita tuh dua piring sambel yang terdiri atas 6 macam sambel… Sienny, sambel apa aja tuh? Kenapa 2 piring? Karena ada yang pedes pisan dan pedes ringan! Harganya Rp32.000 – muahiiil kata Sienny mah.
Dari semua sambel yang ada, buat saya cuma sambel udang yang kepake… yang lain mah biasa2 aja… atau barangkali saya aja yang gak terlalu suka sambel ya? Tambahin ceritanya ya Sien, Janti, Aisa?
Oke, sekarang review LALAH ya. Karena saya sudah beberapa kali ke situ, termasuk ngajak ibu-ibu arisan Cipaku yang semuanya puas, dengan mudah bisa minta apke ruang VIP yang terpisah, yang bisa muat sekitar 12-15 orang.
Sambil menunggu JSers yang lain, dan atas perintah Janti lewat sms yang minta dipesenin aja duluan, maka lima orang pendatang pertama pun berembuk. Mula-mula, dengan gaya JS yang sok mau makan sepiring berdua atau berlima, dan dnegan diwanti-wanti akan pintong, kami memutuskan untuk hanya pesan sedikit saja:
Bebek goreng ½ ekor (Rp25k) – ini untuk membuktikan pujian Lidia
Bebek bakar ½ ekor (Rp25k) – karena saya memang suka bakar2an
Ayam betutu original 2 @ Rp13k – karena saya sudah coba dan terpikat
Lawar, Urap kalas, Tumis jamur bulan masing2 1 porsi @ Rp8k – karena kata Pak BW mesti ada sayurnya biar tetap sehat dan bisa tetap jalan-jalan sambil makan-makan!
Sate lilit ikan 1 porsi isi 5 (Rp15k)
Nasi 6 porsi aja
Mix Juices minta semuanya, 9 gelas dengan aneka rasa @ Rp12k
Air mineral
Air teh tawar
Mula-mula minuman datang satu per satu dan langsung diserbu beramai-ramai, masing2 punya sedotan sendiri. Ternyata semuanya enak, kecuali yang ada campuran caisim-nya, tapi yang ini justru disukai ama… eh sapa ya? Lily?
Jawaranya adalah Blue Delight, suegeeer banget, tampilannya juga cantik, biru menggoda di dasar gelas, lalu di atasnya putih menawan hati, dan di bagian atasnya ada semburat warna abu-abu, sementara rasa yang dominan adalah rasa sirsak. Yang juga dipujiken adalah yang namanya Dalmatian karena memang tampilannya putih berbintik-bintik hitam yang berasal dari serpihan Oreo. Yang stroberi dan bluberry memang enak juga, tapi tidak istimewa. Duuh, maapin Janti, bon-nya hilang, jadi gak hafal nama minumannya.
Sambil menunggu makanan datang, Sienny mengeluarkan irisan dodol keranjang yang digoreng pake telur… yummy! The best dodol keranjang I've ever tasted. Dodolnya lembuuut, dan manisnya cukup, gak giung seperti dodol yang biasa dijual di toko. Makacih ya Sien, sebetulnya pingin juga tuh bawa pulang sisanya, tapi udah keduluan Susi… hehehe, next year ya Sien?
Oke, makanan pun mulai berdatangan dan… aduhai! KURANG BANYAK!!! Dengan kalap semua menyerbu, dan langsung pesan lagi dan lagi dan lagi dan lagi! Akhirnya, pesanan ditambah dengan ½ ekor bebek goreng, ½ ekor bebek bakar, 2 ayam betutu, 1 tumis jamur bulan, 1 urap kalas, dan 4 (atau 5 ya?) porsi nasi.
Yang pertama saya coba adalah bebek bakar, maknyuuus! Dagingnya lembut, bumbunya terasa banget, dan sama sekali tidak pedas menurut lidah saya. Kata Aisa terlalu manis, tapi Non yang satu ini memang ngga suka kecap, so bisa dianggap biased dong – hehehehe
Bebek gorengnya juga sama, lembut dan berasa sekali bumbunya, warnanya cokelat nan cantik. Apalagi ayam betutunya, benar2 jauh lebih enak daripada ayam impor bergambar sang kolonel tea. Warnanya kuning ceria, padahal rasanya puedes bo! Setiap suwiran dagingnya serasa membelai lidah – duh ini mah nyontek ulasan khas Capt Gatot!
Demikian pula sate lilit ikannya, tetap menggoda karena bumbunya yang khas. Sayang kami cuma pesan 1 porsi, jadi kayaknya ada yang ngga kebagian ya? Semua sibuk dengan bebek dan ayam dan sambel dari Warung Sambel.
Oh ya, hampir lupa – sayurannya! 5 porsi semuanya tandas das daaas! Tumis jamur bulannya benar2 lembut menggoda iman! Lawarnya juga pedas2 enak, tampilannya mirip karedok. Sementara urap kalasnya, yakni tumis kacang panjang yang dibalut santan kental, jadi jawaranya. Selintas dalam benak saya ada keraguan, apakah ini kacang panjang dibalut cream cheese? Untung gak keburu nanya, karena Yohana langsung berkomentar: "enak banget ya santennya!" oooh, itu teh santen rupanya! iiih, jadi malu, ketauan gak suka ke dapur!
Oke, sekitar jam 20.30, perut sudah kenyang, tapi kan mesti pintong dong – kan namanya juga anak JS! Karena warung es krim Ritz yang direview dr Sindhi ngga buka hari Selasa, kami memutuskan untuk pintong keee… Honeymoon Dessert di Ciwalk.
Kami ber-10 masih komplit, milih tempat di lantai atas yang bebas asap rokok. Ada 5 porsi dessert yang dipesan... yang mirip ronde pesannya 2 porsi karena ternyata ini favorit banyak orang yang sudah pernah ke situ. Buat saya sendiri yang paling enak adalah bola-bola durian, wuiiiih, heavenly! Mirip kue moci, tapi ukurannya lebih besar, balutan kuenya yang berwarna hijau muda itu lebih tebal dan lembut, dan daging duriannya benar2 muantapf! Lain kali mau diulang ah datang ke situuu…
Yang lainnya lumayan enak juga, sayang lupa namanya, tapi tampilannya seperti kolak bersantan putih, ada butiran hitamn seperti caviar (!!) dan potongan apaaa gitu. Lalu, ada juga "kolak" yang isinya 1 scoop durian dan 1 scoop ketan hitam… yum2 juga… yang kurang enak adalah yang bahannya dari mangga, tapi ya habis juga tuh!
Kami bubar menjelang jam 22.00 dengan janji akan ketemuan lagi bulan depan, menjajal Café Beirut, arabian food, di dekat rumahku di Setiabudi. Mau nyoba sisha! Kan kalo sendiri mah mana berani bo!
Oh ya, kerusakan di LALAH tidak terlalu besar, hanya Rp350k karena ada diskon 15% dengan kartu kredit BCA. Sambel Rp32k, sementara dessert Rp110k. Total sekitar Rp45k per orang, tapi puas deh, soalnya uenaaak banget! Dan suasananya itu lho – money can't buy!
Wuih, rasanya sudah gak sabar menunggu kerusuhan Jser Bandung next month…
Foto akan segera diumumkan dalam posting terpisah oleh Janti dan Sienny dan Susi yang sibuk motret!
Salam nikmat,
Sofia a.k.a. NiFi
Thursday, October 6, 2005
Karya terjemahan dan suntingan
2002
terjemahan
1) A Mother’s Place – Qanita
2) What Our Mothers Didn’t Tell Us – Qanita
3) 50 Ways to A Healthy Heart - Kaifa
Suntingan
1) Terumbu Karang – Remaja Rosdakarya
2) Laut – Remaja Rosdakarya
3) Moluska – Remaja Rosdakarya
4) Corporate Mystics – Kaifa
5) The EQ Edge: Emotional Intelligence and Your Success – Kaifa
2003
terjemahan:
1) Writers Workshop – Kaifa
2) The Philosophers at The End of The Universe – Mizan Pustaka
2004
terjemahan
1) Find Me – Rossie O’Donnel - Gramedia
2) The Burn Journal, Gramedia
3) Annie’s Baby – Gramedia
4) The Judge – Bentang Pustaka
5) The Kabul Bookseller – Qanita
6) Feng Shui Detective Goes South – Bentang Pustaka
2005
terjemahan
1) Organized for Success – Bentang Pustaka
2) Doing Java – Kanisius
suntingan
1) Number The Stars – Serambi; penerjemah: Daisy Subakti
2) Love – Serambi; penerjemah: Ishak Susanto
3) Lake of The Woods – Serambi; penerjemah: Hendrayatna Tafianoto
4) Complications – Serambi; penerjemah: Dr. Zunilda Bustami
5) French Women Don’t Get Fat – Gramedia; penerjemah: Susi Purwoko
6) Send Me Down A Miracle – Serambi; penerjemah: Yulyana
2006
1) The White Castle – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
2) The Things They Carried – Serambi; penerjemah: Hendrayatna Tafianoto
3) South Beach Diet – Gramedia
4) Void Moon – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
2007
1) Everyday Greatness – Gramedia
2) Death du Jour – Serambi; penerjemah: Fahmy Yamani
Monday, September 26, 2005
Tuesday, June 21, 2005
ANGLO Resto/Cafe
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Restaurants |
| Cuisine: | Asian |
| Location: | Jl. Cipedes 46A, Sukasari, Gegerkalong, bandung -- telp 022-202-1652 -- buka setiap hari jam 10.00--21.00 |
resto/cafe ini sudah muncul di Bandung Advertiser, tapi iklannya kurang mencolok. kabarnya baru buka skeitar 4 bulan yang lalu. ini resto menawarkan "Javanese cuisine with a Traditional Armosphere" - begitu tertulis di daftar menunya. di satu sisi ada beberapa foto yang memperlihatkan dapur tradisional, pasukan hospitality, soto ayam, pecel madiun, dan foto sepasang suami istri seumuran saya yang sedang dilayani pelayan pria berpakaian Jawa. di sisi satunya lagi daftar menu, antara lain nasi liwet (gaya solo), sop buntut, soto ayam, rujak cingur, bandeng bakar, sate ayam, dll.
dari luar, resto ini tampak "nyeni" dan lumayan terang. di ruang pertama yang tidak berdinding terdapat beberapa meja bundar dengan kursi kayu. beberapa tiang yang digantungi hiasan dari kayu, dan sebuah counter. lalu, antara ruang pertama dan ruang kedua terdapat sedikit rumput (sekitar 3 meteran jaraknya) dan stepping stones untuk melangkah ke ruang kedua. di ruang tak berdinding ini pun terdapat beberapa meja bundar dan ada satu bale2 utk lesehan. putri dan camen saya langsung heboh karena ada mainan congklak. di atas ruangan ini ada ruangan lagi yang menurut pelayan bisa digunakan untuk meeting atau arisan. tangganya dari kayu.
menu yang ditawarkan cukup banyak, dan harganya sangat reasonable, hanya
belasan ribu utk main course (hanya nasi ulam yang Rp22.000). saya pesan nasi ayam asap (Rp12.000) yang direkomendasikan pelayan, putri saya pesan nasi rawon (Rp12.500), sementara camen pesan nasi pindang (Rp12.500). lalu kami pesan tahu gejrot satu porsi (Rp6500). semuanya enak dan mirasa bumbunya.
ayam asap pesanan saya datang dengan potongan ayam yang lumayan banyak, dan dari bentuknya mirip sekali dengan bebek. ketika saya menyuapkan suapan pertama, dan dirasa-rasa, yap, mirip bebek - dagingnya lembut sementara kulitnya krispi. aroma asapnya terasa pas. karena saya suka kecap, maka daging ayam asap itu saya cocolkan ke kecap yang agak cair di piring tahu gejrot. yumyum... aksesoris nasi ayam asap ini adalah irisan timun dan tomat, lalu ada sambal yang mirip sambal utk nasi uduk. namun, karena terlalu pedas, terpaksa saya abaikan.
nasi rawon pesanan putri saya tampaknya enak juga, ditemani oleh telor asin yang dibelah dua. hal yang sama juga menjadi gaya nasi pindang pesanan camen. katanya sih cukup enak.
tahu gejrot - nah ini agak beda tampilannya dgn tahu gejrot Cirebon yang pernah saya kenal 30 tahunan yang lalu. yang ini lebih mirip tahu telor yang di Satay House Senayan. ada tahu goreng dan irisan telor ceplok, ditemani irisan kol, timun, dan tomat. kecapnya dituangkan ke atas ramuan ini. rasanya juga enak sekali.
makan malam kami diakhiri dengan seporsi pisang keju - irisan pisang goreng bertepung, ditaburi serutan keju dan gula aren. nyamnyam, sepiring ada delapan iris pisang yang dari sononya sudah manis, langsung ludes! akhirnya kami pesan lagi dua porsi untuk di rumah!!
semua makanan di atas, plus bandrek, juice strawberry dan teh panas hanya merusak kantong sebesar Rp80.000 sazza!! benar-benar murah meriah.
Tuesday, June 14, 2005
Dari Santa Ursula ke Stanford
TK dan SD Santa Ursula adalah awal tempat saya menuntut ilmu secara
formal. Selanjutnya, saya menyelesaikan SLTP di SMP BPI I dan SLTA di
SMA 2. Semuanya di Bandung. Farmasi ITB (1969-74) adalah almamater
saya. Di Kampus Ganesha
inilah saya melewatkan masa mahasiswa yang manis. Lima tahun setelah
terdaftar, pada bulan Februari 1974, saya diwisuda di gedung
bersejarah, Aula Barat ITB. Pada bulan Oktober tahun yang sama, bersama
sekitar 15 orang rekan lainnya, saya mengucapkan sumpah apoteker di
hadapan
Rektor ITB yang waktu itu dijabat oleh Prof. Dr. Doddy Tisna-Amidjaya
(alm).
Selain pendidikan formal, saya mengikuti pendidikan nonformal.
Yang pertama adalah kursus singkat di bidang penyuntingan buku di
London, Inggris pada tahun 1982. Kursus ini berlangsung selama empat
bulan. Pengalaman manis selama berada di negeri Princess of Wales
ini menyebabkan saya memandang Inggris sebagai negara saya yang kedua.
Apalagi di sana ada keluarga Green -- Brian (penyelia saya), Ann, dan
si kembar Emma dan Daniel, yang usianya hanya setahun lebih muda dari
anak-anak kembar saya. Keluarga Green
telah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Sampai sekarang saya telah
tiga kali mengunjungi London, dan tak akan pernah melewatkannya setiap
kali saya berkunjung ke Eropa.
Pendidikan nonformal yang kedua masih dalam bidang penerbitan,
yaitu Stanford Professional Publishing Course di Stanford University.
Saya mengikuti SPPC ini pada bulan Juli 1989. Berkat mengikuti kursus
ini, nama saya tercantum sebagai salah seorang alumni Stanford
University! Universitas swasta yang terkenal itu!
Sunday, April 17, 2005
Stanford Professional Publishing Course (Oleh-oleh)
Oleh-Oleh dari Stanford University, Palo Alto, Juli 1989
Stanford Professional Publishing Course atau SPPC adalah kursus tahunan
yang sejak tahun 1978 diselenggarakan setiap bulan Juli oleh Ikatan Alumni
Stanford University. Kursus yang dibanggakan sebagai ajang untuk memperoleh
"master degree in publishing" ini diperuntukkan bagi para profesional
penerbitan yang berpengalaman sedikitnya tiga tahun.
Peserta, alumni, dan direktori
SPPC tidak hanya diikuti oleh warga Amerika Serikat, tetapi menarik peserta
dari seluruh penjuru dunia. Sampai di usianya yang ke-19 pada tahun 1996
ini, alumninya mencakup lebih dari 2000 orang. Dari jumlah ini, sekitar
20% adalah peserta luar AS, dan sekitar 15 orang di antaranya dari Indonesia,
termasuk penulis.
Setiap tahun, para alumni dikirimi buku daftar
nama dan alamat SPPCer (alumni SPPC), yang tentu saja makin lama makin
tebal. Direktori ini sangat bermanfaat karena dapat digunakan untuk keperluan
bisnis. Baru-baru ini penulis disurati seorang SPPCer Rusia Angkatan 1989,
sengkatan dengan penulis, yang menawarkan pekerjaan untuk cabang penerbitnya
di AS. Penulis juga pernah memanfaatkan Direktori untuk berbagi informasi
dengan sesama SPPCer, misalnya ketika mulai menggunakan Internet dalam
penerjemahan dan penyuntingan. Ketika mengunjungi Tokyo Book Fair 1995,
penulis dijamu dan bertukar informasi mengenai penerbitan di negara masing-masing
dengan seorang SPPCer Jepang. Jadi, Direktori SPPC mengakrabkan silaturahmi
antara sesama SPPCer.
Perlengkapan pendukung
Selama kursus yang berlangsung dua minggu, peserta dianjurkan menginap
di asrama mahasiswa yang kosong di musim panas; tentu saja membayar. Perlengkapan
tambahan yang dapat disewa antara lain telepon dan sepeda. Rupanya sejumlah
peserta dari AS perlu terus berkomunikasi dengan perusahaannya sehingga
memerlukan telepon pribadi di kamar. Sementara itu, sepeda sangat membantu
kelancaran transportasi selama kursus. Kampus Stanford memang sangat luas,
dan jarak dari satu kelas ke kelas lain lumayan jauhnya. Kita bisa saja
berjalan kaki, tetapi lebih asyik bersepeda karena sepeda juga berguna
untuk menjelajahi wilayah kampus di waktu luang, misalnya mengunjungi toko
buku, perpustakaan, pusat komputer, atau sekadar jalan-jalan mengunjungi
Museum Rodin atau belanja ke pertokoan kampus yang amat lengkap, mirip
aneka mal yang terus menjamur di Jakarta. Begitu luasnya kampus Stanford
sehingga jalan di lingkungan kampus ada namanya masing-masing, misalnya
West dan East Campus Drive. Asrama yang banyak bertebaran juga mempunyai
nama, misalnya Schiff House dan Grosvernor House, tempat penulis menginap.
Kursus mengambil tempat di sejumlah ruang kuliah
modern, meskipun kadang-kadang tampilan luarnya terkesan kuno. Untuk mendukung
sajian para perancang, dipakai Annenberg Theater yang luas, yang dilengkapi
layar lebar. Pembicaraan mengenai penerbitan nekamedia yang menggunakan
komputer dan video disc player dilangsungkan di Braun Auditorium
yang memiliki perlengkapan serba mutakhir.
Sejak awal, peserta kursus dibagi menjadi dua
bagian besar -- bagian majalah dan buku. Setiap peserta hanya diperkenankan
memilih salah satu bagian karena sekitar 75% bahan disampaikan secara paralel
dalam ruangan yang berbeda. Jika kita berminat mengikuti keduanya, terpaksa
harus menjadi peserta dua kali. Untuk mengikuti kursus yang kedua kalinya
itu, sebagai alumni, kita berhak mendapat potongan biaya kursus.
Pengajar
Bagaimana staf pengajarnya? Mereka adalah para pakar dari sejumlah penerbit
ternama, antara lain Simon&Schuster, Doubleday, Harper&Row, Addison-Wesley
untuk kelompok buku; dan dari Time, Newsweek, Money, Travel & Leisure,
New York Times dll. untuk kelompok majalah. Di samping pakar penerbitan,
pengajar juga mencakup para ahli perancangan, ahli pemasaran, pakar komputer,
dan sejumlah pembicara tamu yang merupakan orang terkemuka dalam dunia
penerbitan AS. Pada tahun 1989, ketika penulis menjadi peserta, keynote
speaker yang tampil pada malam pembukaan adalah Brendan Gill, wartawan
senior The New York Times. Pembicara tamu lainnya adalah Rick Smolan,
jurufoto sejumlah majalah terkenal dan beberapa orang lainnya. Para pembicara
tamu ini mengisi acara malam hari dalam suasana yang lebih santai.
Acara serius vs acara santai
Jadwal kursus memang padat, sesuai dengan biayanya yang cukup mahal. Pendaftaran
sudah dimulai sejak hari Sabtu sore, dilanjutkan pada Minggu pagi. Pada
Minggu malam, acara pembukaan dimulai dengan santap malam, dilanjutkan
dengan memperkenalkan staf pengajar dan pidato oleh keynote speaker.
Hari-hari selanjutnya diisi aneka ceramah dan peragaan sejak pagi sampai
sore. Diskusi dengan pengajar tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi
juga ketika makan siang yang lezat di bawah pepohonan rindang. Para pengajar
bersantap siang bersama peserta dan bergiliran pindah dari satu meja ke
meja lain setiap hari.
Karena bulan Juli adalah musim panas, siang
hari cukup panjang. Ketika acara kursus berakhir sekitar pukul 17.00, hari
masih terang sehingga peserta masih bisa bersantai, misalnya berenang atau
tenis. Tetapi, waktu luang ini kebanyakan digunakan untuk diskusi kelompok.
Sejak awal, semua peserta memang dibagi menjadi beberapa kelompok yang
mendapat tugas merencanakan penerbitan sebuah buku atau majalah. Setiap
kelompok terdiri atas 8-10 orang. Tugas mencakup seluruh proses penerbitan,
mulai dari menentukan topik yang akan diterbitkan, mencari penulisnya,
membuat garis besar isinya, rancangannya, biaya produksinya, pemasarannya,
dsb. Tampaknya tugas ini cukup berat dan menyita waktu, tetapi sebenarnya
tidak, sebab bukankah para peserta sudah cukup berpengalaman dalam bidang
penerbitan? Namun, ada juga peserta yang merasa terlalu dibebani tugas,
lalu memutuskan untuk tidak mau terlalu berperan dalam mengerjakan tugas,
malah lebih memanfaatkan waktunya untuk menikmati kampus Stanford yang
cantik. Peserta Rusia mengatakan bahwa mereka datang ke AS karena ingin
bersantai, tidak mau serius terus!
Padahal, biaya kursus tidak murah - untuk tahun
1996 ini lebih dari $3000. Dan, penyelenggara juga sebenarnya menyediakan
acara santai. Pada akhir pekan pertama, di hari Minggu, penyelenggara menyediakan
acara menarik yang diikuti oleh hampir semua peserta luar AS. Pada tahun
1989, acara gratis itu adalah mengunjungi Sausalito, sebuah kota cantik
di tepi pantai. Kami berangkat dengan kapal pesiar yang khusus dicarter,
menyusuri teluk San Francisco yang molek, melintas di bawah Golden Gate
Bridge yang terkenal. Di kapal, sebuah kelompok musik menghibur peserta
yang asyik bergoyang mengikuti irama. Tetapi, banyak juga peserta yang
malu-malu dan menghabiskan waktunya dengan mengobrol saja.
Siapa yang terbaik?
Pada hari terakhir, semua kelompok menyajikan hasil tugasnya di depan seluruh
peserta dan pengajar. Tugas ini dinilai oleh tim juri yang terdiri atas
para pengajar. Pada tahun 1989, kelompok penulis meraih juara kedua. Kelompok
kami memang agak 'sableng'; kami berencana menerbitkan buku masak khusus
yang menyajikan aneka masakan dari ... daging anjing! Ini sebetulnya topik
yang sensitif bagi masyarakat Amerika yang dikenal penyayang anjing. Tetapi,
tugas ini ternyata berhasil memikat para juri karena penyajiannya yang
kocak - diuraikan kiat menangkap anjing (mencuri anjing tetangga), cara
membunuhnya (dibanting dalam karung supaya darah anjing tidak menciprati
baju), mengulitinya (karkas digantung di dahan pohon). Yang juga unik dan
menggelikan adalah pilihan nama anjing terkenal untuk setiap resep masakan:
Semur Garfield, Sup Pavlov, Capcay Rin Tin Tin, Gulai Snowy. Anda mau tahu
judul bukunya? Kalau anjing dikenal sebagai sahabat manusia atau men's
best friend, maka buku kami berjudul Men's Best Food!
Dunia tanpa kertas
Pada acara terakhir, digelar panel diskusi. Pada tahun 1989, pokok bahasannya:
Dunia tanpa kertas. Para panelis mengemukakan pandangan mereka tentang
kecenderungan dunia penerbitan di abad ke-21. Pada umumnya mereka berpendapat
bahwa kertas masih akan digunakan dalam dunia penerbitan. Hanya seorang
panelis yang dengan tegas mengatakan bahwa pada tahun 2010 terbitan nekamedia
akan merajalela dan kertas tidak akan digunakan lagi.
Pendapat ini mengundang debat sengit. Seorang
peserta wanita dengan sinis mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau
membaca majalah hiburan sambil melotot di depan layar komputer. Dia lebih
suka membacanya sambil tiduran di kursi malas. Akhirnya, setelah diserang
habis-habisan, si panelis bandel itu 'menyerah' dengan mengatakan: "All
right, I agree that in the year 2010 paper will still be in use ... as
toilet paper ...!"
Jalan-jalan Yuk
Where else but Madurodam?
Kew Garden, Big Ben, Menara Eiffel, Taj Mahal, Tsar Summer Palace, Arlington Cemetery, Grand Canyon, Sydney Opera House, Ka'bah, Danau Toba, Tanah Lot, Pantai Senggigi -- inilah tempat-tempat indah dan bersejarah di dunia yang pernah saya kunjungi. Lima benua sudah saya tapaki, namun buana cantik ciptaan Ilahi ini masih sangat luas untuk dinikmati sepuas-puasnya.
Lain Padang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya (Wisata Kata)
Kalimat pembuka di atas diucapkan Linda Sivesind, moderator sidang dalam Kongres FIT (Perhimpunan Penerjemah Internasional) 1996 di Melbourne. Linda bertugas memperkenalkan Mr. Aneurin Hughes, seorang tokoh terkemuka dari Uni Eropa.
Sang moderator kemudian melanjutkan kalimat pembukanya dengan menceritakan sebuah kisah: "Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, Hughes muda, seorang mahasiswa berkantung kempes, sedang kebingungan mencari tempat menginap di Oslo, Norwegia. Karena tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa kamar di losmen termurah sekalipun, pemuda Hughes kemudian membaringkan diri di sebuah bangku taman di luar pagar istana kerajaan. Menjelang subuh, dia dibangunkan dan diusir oleh satpam istana ... Waktu pun terus bergulir, musim dan tahun terus berganti ... Hughes muda kini telah menjadi orang, dan menduduki jabatan penting di Uni Eropa. Ketika berkesempatan memenuhi undangan sebuah acara resmi di istana, beliau menceritakan pengalamannya itu kepada tuan rumah, Raja Norwegia. Sang raja tersenyum, lalu berkata: "Mr. Hughes, sekarang Anda boleh menginap, kapan saja Anda kehendaki, di bangku mana saja di halaman istana saya, dan saya jamin satpam saya tidak akan mengusir Anda lagi .…"
Di tengah gemuruhnya tawa dan tepuk tangan hadirin, Linda yang cantik mempersilakan Mr. Hughes tampil ke pentas. Dengan humor yang sama segarnya, Mr. Hughes mengomentari sang moderator beberapa saat, kemudian mulai mengantarkan makalahnya.
Kisah seperti di atas sering terdengar dalam berbagai seminar di mancanegara. Suasana pembukaan sidang terkesan santai, tanpa berkurang bobot keseriusannya. Tidak ada sapaan bertele-tele, tidak ada basa-basi – semua bersifat langsung, dan sering kali malah ceria, khususnya ketika moderator memperkenalkan pembicara.
Memang, sebagaimana kata pepatah, "Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lainan". Ada panitia yang suka dengan gaya agak santai seperti Linda Sivesind, tetapi ada juga yang bersikap serba resmi. Ini semua tampaknya berkaitan dengan budaya atau adat suatu bangsa atau masyarakat. Di negara kita, misalnya, panitia seminar sering kebingungan menentukan kata sapaan yang tepat untuk sejumlah pejabat atau tamu kehormatan yang hadir – siapa yang harus disebut pertama dan siapa yang terakhir, apa gelar akademik sang tamu, apa pangkatnya, apa kedudukannya, dan sebagainya. Ada kalanya, sapaan basa-basi ini berlangsung cukup lama dan menjemukan. Namun, itulah kebiasaan kita, yang tampaknya akan tetap bertahan cukup lama di masa mendatang.
Yang berusaha, yang amat berusaha
Anda mungkin terperangah bila disapa sebagai "Yang Berusaha, Tuan Anu". Tetapi, itulah salah satu sapaan yang pernah terdengar dalam seminar di negara jiran, Malaysia. Karena penasaran, penulis bertanya kepada teman yang orang Malaysia mengenai sopan-santun dalam hal sapa-menyapa ini.
Keterangannya sungguh mencengangkan. Menurut pakar sosio-linguistik ini, ada sekitar 20 kata sapaan yang biasa digunakan di Malaysia. Yang paling sopan tentu saja sapaan "Duli Yang Maha Mulia Sultan Yang Dipertuan Agong". Di bawahnya ada "Duli Yang Teramat Mulia", "Duli Yang Amat Mulia", dan "Duli Yang Mulia". Setelah itu, ada sapaan "Yang Terutama", "Yang Berhormat", dan "Yang Berusaha", yang juga terdiri atas beberapa tingkat. Dapat dibayangkan betapa bingungnya panitia dan betapa panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan acara sapa-menyapa ini jika banyak tamu kehormatan yang hadir dengan berbagai jenjang kedudukan.
Peribahasa atau kata mutiara
Sudah menjadi kebiasaan sementara orang untuk menyisipkan peribahasa, kata mutiara, ucapan orang bijak, atau bahkan puisi dalam pidato mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah ucapan Presiden John F Kennedy pada pidato pelantikannya: "My fellow Americans, ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country". Ucapan yang kini tertatah pada batu pualam di kompleks makam Presiden AS ke-35 ini sering dikutip banyak orang di seluruh dunia.
Meskipun tidak terlalu sering, kebiasaan menyisipkan kata bijak ini juga tampak di Indonesia dan Malaysia. Yang paling sering dikutip pada akhir sebuah acara adalah: "Bila ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi; bila ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi."
Bahkan, di Malaysia, ungkapan tertulis lazim pula digunakan untuk mengakhiri surat. Ungkapan "Cintai Bahasa Kita" sering mengakhiri surat dari Dewan Bahasa dan Pustaka, lembaga yang berperan memajukan bahasa nasional Malaysia. Ungkapan "Ke Arah Pembentukan Industri Terjemahan Di Malaysia" tertulis di akhir sebuah surat dari ITNM (Institut Terjemahan Negara Malaysia Berhad). Kebiasaan manis ini tampaknya belum membudaya di Indonesia, meskipun tidak ada salahnya ditiru karena kita pun kaya akan peribahasa yang menarik untuk diperkenalkan.
Belakangan ini, kata mutiara pun sering menyemarakkan jatidiri seseorang di Internet, yang dikenal sebagai signature karena fungsinya memang mirip dengan tanda tangan, yang sudah lazim kita kenal. Dalam signature di dunia elektronik ini, banyak orang yang selain mencantumkan nama, alamat (pos, fax, e-mail), dan profesinya (misalnya penerjemah bahasa tertentu), juga menambahkan gambar unik atau kata mutiara. Ini hal yang menarik karena kata mutiara pilihan seseorang secara tidak langsung menunjukkan motto hidup pemilihnya. Misalnya, anggota Greenpeace dapat dipastikan mencantumkan kata mutiara yang berhubungan dengan perdamaian dan kelestarian lingkungan.
Miss, Mrs, Ms
Membicarakan bahasa dalam kaitannya dengan kebudayaan suatu bangsa selalu menarik karena setiap kebudayaan memang unik. Dalam penerjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia (BI) sering terdengar tuduhan tentang betapa miskinnya kosakata BI, walaupun sebenarnya si penerjemahlah yang miskin kosakatanya. Buktinya, saya yakin sebagian besar orang Indonesia, yang terpelajar sekalipun, tidak mengenal makna kata "cahi, terok, kakagau" meskipun ketiga kata tersebut ada dalam KBBI. Ketiganya dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris "brother, sample, verdict". Tetapi, seandainya pun kita mengenal ketiga kata Indonesia itu, belum tentu kita mau menggunakannya dalam terjemahan dengan dalih "tidak komunikatif".
Marilah sekarang kita kembali ke masalah kata sapaan. Ketika belajar bahasa Inggris, kita diajari tiga kata sapaan, yaitu Mr untuk pria, Miss untuk nona, dan Mrs untuk nyonya. Sekarang dikenal kata sapaan baru yang netral bagi kaum wanita, yaitu Ms, yang tidak membedakan apakah wanita yang disapa itu belum atau sudah menikah. Sapaan Ms sekarang lebih sering digunakan dan boleh dikatakan jauh lebih populer daripada Miss dan Mrs. Langkah perubahan ini diambil karena kaum wanita tidak mau dibedakan apakah dia sudah atau belum menikah. Sapaan Mr juga tidak menunjukkan status perkawinan si pria yang disapa, bukan?
Tetapi, perubahan ternyata tidak berhenti hanya sampai pada kata sapaan. Penulis pernah terheran-heran ketika membaca tulisan tentang sekelompok wanita di Amerika yang ingin mengubah kata Inggris history menjadi herstory. Kata history, yang konon gabungan dua kata "his" dan "story", dipandang meremehkan kaum wanita! Tetapi, berbeda dengan kata Ms, kata herstory tampaknya tidak lama gaungnya dan bahkan mungkin tidak pernah hidup.
Gerakan "emansipasi" ini ternyata semakin merebak, menyentuh berbagai bidang. Dalam kamus Random House Webster's College Dictionary terbitan 1992 ada tulisan yang khusus membahas kata-kata jantina (sex). Dikemukakan bahwa dewasa ini pilihan kata perlu dicermati karena dikhawatirkan bisa menyinggung perasaan orang, khususnya kaum wanita. Kita tahu, cukup banyak kata Inggris berakhiran "man", padahal sekarang banyak wanita pekerja yang menyandang makna kata yang berakhiran "man" tersebut. Misalnya, kata businessman dianggap tidak adil karena bukankah cukup banyak wanita yang juga menggeluti dunia bisnis. Maka, kata businessman dianjurkan tidak digunakan; sebagai gantinya diusulkan pemakaian kata business person, business executive, atau manager.
Contoh lainnya cukup banyak, misalnya kata man-made yang dianjurkan diganti menjadi artificial atau synthetic, fireman menjadi firefighter, chairman menjadi chairperson, cameraman menjadi camera operator atau cinematographer, mailman dan postman menjadi mail carrier atau letter carrier, steward dan stewardess menjadi flight attendant, salesman menjadi salesperson atau sales representative.
He, She, Dia
Di dalam khazanah BI, masalah jantina tidak sering mencuat karena kata sapaan dalam BI kebanyakan bersifat netral. Simaklah kalimat:
"Dialah wartawan yang memenangkan penghargaan Adinegoro tahun ini".
Kalimat itu tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris jika sebelumnya si penerjemah tidak mengetahui jantina si wartawan. Terjemahannya akan begini:
"He/She is the journalist who won the Adinegoro award this year".
Penutur bahasa Inggris juga pernah mempersoalkan sebutan untuk Tuhan, yang di dalam BI tidak menimbulkan masalah karena kita menyebut-Nya sebagai Dia – tanpa perlu menunjukkan jantina. Dalam bahasa Inggris, sebagai pihak ketiga, Tuhan disebut He, yang mengundang pertanyaan – mengapa He, bukan She?
Lalu, Anda mungkin bertanya: "Kalau begitu, apakah BI lebih kaya daripada bahasa Inggris?" Pertanyaan yang sebetulnya tidak penting karena bahasa tidak usah diperbandingkan kaya-miskinnya, melainkan mampukah penggunanya memanfaatkan bahasa tersebut untuk mengungkapkan dengan cermat gagasan mereka.
(Berita Buku, Juni 1996)
Gurame Bumbu Acar (Wisata Kata)
Untuk menghormati tamu mancanegara, sering kita menjamu mereka dengan makanan khas daerah kita. Hidangan khas Sunda, misalnya, adalah hidangan dari ikan, baik ikan pepes, ikan goreng, maupun ikan bakar. Sekadar menjamu makan memang mudah. Yang repot adalah bila sang tamu tertarik untuk mengetahui lebih jauh soal hidangan tersebut. Misalnya, apa penyebab warna kuning pada "Gurame Bumbu Acar"? Orang Sunda tentu tahu bahwa bumbu itu namanya koneng, yang dalam bahasa Indonesia disebut kunyit atau kunir. Tetapi apa bahasa Inggrisnya?
Tampaknya pendapat Josephine Bacon dari Chanterelle Translations di Inggris memang benar. Dia mengatakan dalam Kongres FIT (Himpunan Penerjemah Internasional) 1996 di Melbourne bahwa untuk dapat menerjemahkan buku masak dengan baik, seseorang bukan saja harus menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran, tetapi lebih dari itu. Penerjemah buku masak harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai cara masak-memasak dalam kedua bahasa tersebut, mengenal dengan baik nama bahan dan bumbu masak di negara pengguna bahasa sasaran, dan kekhasan budaya lainnya. Ragam bahasa masak-memasak memang sangat sarat dengan kata dan frase lokal, bahkan juga dalam bahasa Inggris. Menurut Bacon, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa buku masak terbitan Amerika tidak bisa dipahami oleh koki Inggris!
Selanjutnya, Bacon mengatakan bahwa penerjemahan buku masak dapat digolongkan sebagai "penerjemahan buku ilmiah", yang sangat terspesialisasi. Jadi, sama seperti penerjemah buku ilmiah, penerjemah buku masak pun harus menguasai bahan yang diterjemahkan, meliputi teknik memasak, nama bahan dan bumbu, peralatan masak, dan sebagainya. Bahkan memiliki pengetahuan masak-memasak ini jauh lebih penting daripada menguasai bahasa sumber. Hasil terjemahan penerjemah yang menguasai masalah masak-memasak sering jauh lebih baik daripada penerjemah yang hanya menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran tetapi tidak tahu banyak tentang dunia masak-memasak.
Yang lebih memberatkan tanggung jawab penerjemah buku masak adalah sangat minimnya keterlibatan penerbit atau penyunting dalam menangani hasil terjemahan. Boleh dikatakan staf penerbit sama sekali tidak bisa membantu karena mereka bukan "pakar masak-memasak" sehingga tanggung jawab mengenai kebenaran terjemahan sepenuhnya dipikul oleh penerjemah.
Selain itu, penerjemah buku masak dituntut untuk lebih dari sekadar menerjemahkan. Mereka harus dapat "menafsirkan" resep masakan agar sesuai dengan konteks di negara sasaran, misalnya menyulih bahan asli dengan bahan lain yang dikenal sehingga resep itu dapat dipraktikkan di negara sasaran tersebut.
Jenis Bahan, Berat, dan Suhu
Mencermati masalah peristilahan sangatlah penting dalam penerjemahan buku masak, sebagaimana juga dalam penerjemahan buku ilmiah. Kekeliruan menerjemahkan istilah atau kata – dalam hal ini biasanya nama dan ukuran bahan – bisa menimbulkan "malapetaka". Misalnya, roti bisa terasa aneh karena jenis bahannya salah. Bayangkan bentuk dan rasa roti Anda jika resep mengatakan Anda harus memasukkan buah anggur, padahal seharusnya kismis! Kismis memang buah anggur, tetapi bukan anggur sebagaimana yang lazim kita bayangkan!
Berat dan ukuran merupakan masalah yang tidak kurang rumitnya. Bayangkan betapa kesalnya jika kue Anda bantat atau hidangan yang seharusnya berkuah kental ternyata malah encer karena jumlah bahan yang ditambahkan keliru. Ternyata penerjemah buku masak yang resepnya tengah Anda coba itu tidak mengetahui bahwa ukuran cup dalam buku masak Amerika tidak sama dengan ukuran cup dalam buku masak Inggris atau Australia; satu cup Amerika hanya 8 fl oz, sedangkan cup Inggris 10 fl oz.
Orang sering pula mengelirukan ukuran berat dalam oz dengan ons. Seorang penyiar TV swasta di Indonesia pernah menyampaikan informasi harga emas satu ons yang begitu murah, padahal ternyata yang dimaksudkannya adalah harga emas satu oz. Dapat dipastikan penyiar tersebut tidak tahu bahwa satu ons (100 gram) sungguh berbeda dengan satu oz (28,350 gram; dilafalkan auns). Bahkan satu oz bahan padat berbeda dengan satu oz bahan cair, yang biasa disebut fl oz. Penerjemah yang baik harus rajin membuka kamus atau buku rujukan lain agar terjemahannya benar-benar tepat dalam hal ukuran dan berat ini.
Hal lain yang juga harus dicermati adalah suhu oven. Penerjemah yang baik biasanya mencantumkan angka suhu dalam satuan fahrenheit dan celcius sekaligus sehingga pengguna buku masak tidak usah repot mengonversikannya sendiri jika oven miliknya hanya mencantumkan salah satu ukuran suhu tersebut. Jangan-jangan, masakan Anda hangus atau masih mentah hanya gara-gara Anda salah menafsirkan ukuran suhu!
Bacon juga mengemukakan pengalamannya menerjemahkan buku masak kuno yang terbit sebelum ukuran metrik digunakan. Dia perlu mencari buku rujukan untuk mengonversikan ukuran oka (digunakan pada zaman Kekaisaran Ottoman), quint (Inggris kuno), atau livre (Prancis kuno). Semua ukuran kuno ini menunjukkan berat yang berbeda-beda, bergantung pada negara, atau bahkan wilayah dalam suatu negara! Bayangkan betapa repotnya Bacon ketika menerjemahkan buku kuno tersebut.
Samakah "Aduk" dan "Kocek"?
Hal selanjutnya yang juga perlu diperhatikan adalah istilah yang digunakan; artinya, penerjemah harus taat asas atau konsisten dalam menggunakan istilah. Hal ini tentu berlaku juga pada semua jenis buku petunjuk. Menurut Bacon, resep masakan harus ditulis dengan kalimat perintah yang sama manakala menjelaskan proses yang sama. Misalnya, kalau di sebuah resep dituliskan kata "aduklah", maka dalam resep lain harus digunakan kata yang sama untuk tindakan yang sama – jangan diragamkan dengan sinonimnya, misalnya "koceklah". Jangan dibiarkan pengguna buku bertanya-tanya apakah gerakan "mengocek" dan "mengaduk" itu sama atau berbeda; mungkin penerjemah sengaja menggunakan kedua kata itu untuk membedakan gerakan yang dimaksud. Pengguna buku masak akan mengikuti perintah dalam buku selangkah demi selangkah; karena itu, semua instruksi harus dituliskan dalam kalimat perintah yang benar-benar jelas. Untuk menghasilkan naskah yang baik, jika perlu, penerjemah membuat sendiri format penulisan yang baku, dan inilah yang secara taat asas digunakannya sebagai pedoman.
Tanaman Telur!
Penerjemahan buku masak bukan satu-satunya yang berhadapan dengan nama bahan makanan yang begitu beragam di berbagai pelosok dunia. Penerjemahan yang sejenis dengan ini adalah penerjemahan buku yang mengupas bahan obat tradisional, buku tanaman atau pertanian, dan buku yang membicarakan masalah pangan.
Ada seorang penerjemah buku pertanian yang berhadapan dengan istilah grape fruit. Langsung saja dia menerjemahkannya menjadi buah anggur, padahal yang dimaksud adalah sejenis buah jeruk besar berwarna kuning, semacam jeruk bali. Bagaimana pula jika dia menjumpai kata star fruit? Jangan-jangan diterjemahkan menjadi buah bintang, padahal yang dimaksud adalah buah tropika yang sudah sangat kita kenal dengan nama belimbing, yang memang penampang irisannya berbentuk bintang. Penerjemah harus pula curiga jika menjumpai kata eggplant, jangan diterjemahkan menjadi tanaman telur, karena kita lazim menyebutnya terung ungu, yang tentu saja tidak berkerabat sama sekali dengan telur, baik telur ayam maupun telur penyu! Dalam hal ini, yang paling aman adalah menuliskan juga nama buah atau tanaman tersebut dalam bahasa Latin karena nama Latin bersifat internasional sehingga salah tafsir dapat dihindari.
Penutup
Menjadi penerjemah buku masak ternyata tidak mudah, bukan? Tetapi, menjadi tuan atau nyonya rumah yang baik pun sama tidak mudahnya, terutama jika tamu Anda "cerewet". Karena itu, jika Anda sering harus menjamu tamu asing, sebaiknya Anda memperlengkapi diri dengan pengetahuan mengenai bumbu masak Indonesia, sekaligus mencari tahu istilah Inggrisnya atau istilah Latinnya. Dijamin, tamu Anda yang sering kali penuh rasa ingin tahu itu akan terpuaskan, bukan saja oleh kelezatan makanan khas yang Anda sajikan, tetapi juga karena Anda dapat menjawab semua pertanyaannya yang sebetulnya membuat Anda pusing tujuh keliling!
(Sebagian bahan diambil dari makalah Josephine Bacon yang disampaikan pada Kongres ke-14 FIT, Melbourne, 12-16 Februari 1996)
(Berita Buku, September/Oktober 1996)